Terpopuler Sepekan

Tragedi Tewasnya Bocah Temanggung Gegara Disebut Titisan Genderuwo

Eko Susanto - detikNews
Sabtu, 22 Mei 2021 12:51 WIB
Temanggung -

Sesosok mayat bocah perempuan ditemukan di dalam rumahnya di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Bocah perempuan berinisial A (7) ini dinilai terlalu nakal dan disebut titisan genderuwo sehingga disarankan diruwat dengan cara ditenggelamkan.

Mayat bocah itu ditemukan pada Minggu (16/5) sekitar pukul 23.00 WIB. Kondisi mayat bocah tersebut saat ditemukan dalam kondisi mengenaskan, tinggal tulang dan kulit dan dibaringkan di dalam kamarnya.

"Posisi ada di kamar. Di salah satu kamar dari rumah tersebut. Kondisinya sudah jadi mayat, kondisinya kering tinggal kulit tulang, kalau nggak salah," ujar Kapolres Temanggung AKBP Benny Setyowadi kepada wartawan di Mapolres Temanggung, Senin (17/5/2021).

Dari temuan mayat itu, polisi lalu memeriksa kedua orang tua korban yakni M (43) dan S (39). Polisi lalu memeriksa seorang pria yang dikenal sebagai dukun H dan asistennya B.

Dari pemeriksaan itu fakta-fakta baru mulai terkuak. Kedua orang tua korban yakni M dan S terperdaya bujuk rayu dukun soal putri bungsu mereka.

"Sementara dugaan awal (motif) adalah atas pengaruh bujuk rayu dari saudara H yang di kampungnya merupakan orang pinter atau dukun. Kemudian yang menyuruh dari orang tua korban bersama saudara B untuk melihat kondisi dari anaknya, anaknya diyakini adalah pada saat itu kondisi nakal," kata Benny.

Dari keterangan itu, polisi akhirnya menetapkan empat orang sebagai tersangka. Yakni kedua orang tua korban, si dukun dan asistennya. Keempatnya diyakini terlibat dalam kasus meninggalnya bocah A itu. Kepada polisi, orang tua korban pun mengaku telah melakukan penganiayaan yang mengakibatkan tewasnya korban.

"Kita periksa kedua orang tua korban dan kemudian mereka memberikan keterangan bahwa mereka telah melakukan penganiayaan bersama-sama dengan orang yang lain. Yang mana dua orang itu akhirnya kita amankan di rumah masing-masing," terang Kasat Reskrim Polres Temanggung AKP Setyo Hermawan saat konferensi pers, Rabu (19/5).

Korban sudah sempat dua kali diruwat

Setyo mengatakan bocah itu sudah dua kali menjalani ruwatan yakni pada Desember 2020 lalu dan terakhir pada Januari 2021. Pada ruwatan yang kedua inilah korban meregang nyawa usai ditenggelamkan di dalam bak kamar mandi. Setyo menyebut bocah perempuan itu dianiaya oleh kedua orang tuanya atas arahan dukun H dan asistennya B.

"Untuk penganiayaan dilakukan para tersangka dengan membenamkan kepala korban di dalam bak mandi di kamar mandi. Ukurannya (bak) adalah dengan lebar 1 meter, panjang 2 meter, tinggi 1 meter," ungkap Setyo.

Setyo mengungkap dukun H menyebut korban terlalu nakal dan titisan genderuwo. Dukun itu lalu menyarankan korban diruwat agar tidak menjadi masalah di kemudian hari, orang tua korban pun menuruti anjuran dukun itu.

"Orang tua korban yakin karena dukun ini memberitahu bahwa anaknya merupakan titisan genderuwo yang mana apabila dibiarkan nanti tumbuh besar bisa meresahkan warga sekitar. Makanya mereka yakin dan mengikuti anjuran atau masukan dari dukun itu," kata Setyo.

Ide untuk diruwat dengan cara ditenggelamkan ini juga berasal dari dukun H. "Siapa yang memiliki inisiatif memang kalau kita lihat dari pemeriksaan pelaku H, yang di mana adalah dianggap sebagai dukun memiliki inisiatif untuk meruwat," terang dia.

Dalam kasus ini polisi juga menyita sejumlah barang bukti seperti plastik, pengharum ruangan, hingga baju korban. Selama mayat korban disimpan di dalam kamar itu, orang tua korban menggunakan pengharum ruangan untuk menghilangkan bau.

"Selama 4 bulan ini memang tetangga sekitar tidak bisa mencium bau mayat atau tidak mengeluarkan bau mayat karena memang jarak dari rumah atau TKP dengan sebelahnya lumayan ada jarak dan lokasi kamar penyimpanan memang rapat ditambah dengan ada beberapa pengharum ruangan yang bisa mengaburkan bau mayat tersebut," jelasnya.

Selengkapnya di halaman selanjutnya...