Bocah Tewas Korban Ruwatan, MUI Jateng: Tak Ada Anak Titisan Genderuwo!

Angling Adhitya Purbaya - detikNews
Kamis, 20 Mei 2021 21:17 WIB
Ketua MUI Jateng, Ahmad Darodji, Kamis (1/4/2021).
Ketua MUI Jateng, Ahmad Darodji, Kamis (1/4/2021). Foto: Angling Adhitya Purbaya/detikcom
Semarang -

Seorang bocah perempuan berusia 7 tahun tewas setelah ditenggelamkan dalam bak kamar mandi di Temanggung, dengan dalih ruwatan menghilangkan sifat nakal karena dianggap titisan genderuwo. Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah menegaskan tidak ada yang namanya anak titisan genderuwo atau jin.

Ketua MUI Jateng, KH Ahmad Darodji, mengatakan ruwatan merupakan tradisi di Jawa untuk mendoakan, namun dalam Islam, doa untuk anak sejak kecil sudah dilakukan dengan akikah.

"Dalam Islam sebenarnya tidak ada ruwat. Semua itu minta tolong sama Gusti Allah," kata Darodji saat dihubungi detikcom, Kamis (20/5/2021).

"Jadi anak kecil dulu sudah diakikah, minta tolong kepada Gusti Allah agar anak ini dibimbing, makanya dibacakan selawat dan sebagainya, itu sudah," imbuhnya.

Ia menyayangkan peristiwa tewasnya bocah perempuan di Temanggung itu yang disebut sebagai ruwatan namun dilakukan dengan cara yang sama sekali tidak dibenarkan.

"Memang versi Jawa ada ruwatan isinya selametan, ya silakan. Tapi kalau isinya menenggelamkan anak ya jelas tidak ada yang membenarkan," ujarnya.

Terkait kepercayaan soal genderuwo dalam kasus tersebut, Darodji menjelaskan dalam Islam memang dipercaya adanya jin yang wujudnya bisa berbagai bentuk dan salah satunya ada yang menyebut genderuwo. Namun titisan genderuwo itu tidak ada.

"Jadi memang jin, makhluk halus itu ada, jin seperti manusia, ada yang iman ada yang tidak. Yang tidak beriman mengganggu orang dengan berbagai cara. Mengenai itu, ada jin munculnya ada yang orang menyebut genderuwo dan sebagainya, jadi kita percaya boleh tapi kalau kita tidak percaya Gusti Allah kita salah. Jika diganggu itu tinggal banyak baca zikir," jelasnya.

"Kalau titisan tidak ada, kalau diganggu bisa," tegas Darodji.

Maka, ketika pasangan suami istri berhubungan untuk mendapatkan keturunan selalu didahului doa agar anaknya tidak diganggu jin dan setan.

"Ketika suami istri akan berkumpul, diminta berdoa agar dijauhkan dari gangguan setan," imbuhnya.

Untuk diketahui, bocah perempuan berinisial A (7) tewas setelah ditenggelamkan dalam bak kamar mandi di rumahnya, Temanggung, pada bulan Januari 2021. Orang tua korban dan orang yang mengaku dukun serta seorang asistennya terlibat dalam aksi ini dengan dalih ruwatan menghilangkan sifat nakal korban karena dianggap titisan genderuwo.

Mayat korban kemudian disimpan selama 4 bulan di rumahnya karena dukun menyebut korban akan hidup lagi. Hingga akhirnya mayat korban diketahui warga pada Minggu (16/5) lalu.

Dalam kasus ini, polisi menetapkan empat orang sebagai tersangka terkait kematian korban, yakni ayah korban M (43), ibu korban S (39), dukun H (56) dan asistennya B (43).


"Untuk pekerjaan masing-masing pelaku si orang tua korban, ayahnya penderes karet, sedangkan ibunya penjahit di rumah. Untuk saudara H, itu merupakan karyawan swasta dan saudara B merupakan karyawan BUMN," kata Kasat Reskrim Polres Temanggung AKP Setyo Hermawan dalam jumpa pers di Mapolres Temanggung, Rabu (19/5).

(rih/mbr)