Kasus Corona Klaster Bukber-Kerokan Bareng di Yogya Tambah Jadi 29

Heri Susanto - detikNews
Selasa, 11 Mei 2021 16:20 WIB
Wakil Wali Kota Yogyakarta Heroe Poerwadi. Foto diambil Selasa (27/10/2020)
Wakil Wali Kota Yogyakarta Heroe Poerwadi (Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom)
Yogyakarta -

Kasus virus Corona yang berawal dari acara buka puasa bersama (bukber) dan kerokan bareng-bareng di Kelurahan Wirobrajan, Yogyakarta, bertambah. Dari kasus awal 10 kasus dengan seorang meninggal, kini bertambah menjadi 29 kasus.

"Hasil pemeriksaan Senin (10/5) dari 20 orang yang sebelumnya positif tes antigen, 19 di antaranya mendapati hasil serupa saat menjalani tes PCR. Sejauh ini, proses tracing pun masih terus dilakukan," kata Wakil Wali Kota Yogyakarta sekaligus Ketua Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 Kota Yogyakarta, Heroe Poerwadi, kepada wartawan, Selasa (11/5/2021).

Klaster buka bersama ini terjadi di Kalurahan Wirobrajan, Kemantren Wirobrajan, Kota Yogyakarta.

Satgas Penanganan COVID-19 Kota Yogyakarta juga mendata 80 orang yang termasuk kategori kontak erat. Jumlah ini berasal dari tracing 19 orang dari total 29 orang positif Corona.

"Tracing akan kita kembangkan, yang 19 orang itu kontak erat dengan siapa saja, agar kita dapat melakukan blocking secara maksimal. Tim dari Satgas sedang ke sana ini, untuk melihat sebarannya," terangnya.

Heroe memastikan pembatasan aktivitas warga masih dilakukan sambil menunggu hasil pelacakan selesai.

"Semakin lama menemukan orang yang harus dites, itu jelas mengakibatkan lamanya blokade, atau pembatasan akses di wilayah tersebut. Kalau bisa selesai cepat, maka kita bisa menentukan berapa lama itu. Maka, harus ada kesadaran. Kalau masuk kontak erat, ya sukarela saja untuk dites, demi mencegah sebaran virusnya, dan mempercepat pembatasan akses," urai dia.

Diberitakan sebelumnya, dari 29 kasus dalam klaster ini, terdapat satu orang meninggal dunia. Permukiman padat penduduk di lokasi klaster ini menjadi faktor yang menyebabkan persebaran kasus.

"Bahkan ada juga yang sempat pijit, atau kerokan satu sama lain, karena mereka keluarga besar atau trah," sambungnya.

Selain itu, temuan satgas di lapangan, kawasan tersebut merupakan permukiman padat penduduk. Selain itu jarak rumah antarwarga juga berdekatan.

"Kan ini trah keluarga besar, berawal dari makan bersama atau buka bersama kemudian berkembang jadi satu klaster RT. Karena rumahnya berdekatan, keluar gang kecil itu sudah rumah berhimpitan," urai Heru.

Simak juga Video: Duh, 56 Orang Sekampung di Pati Kena Corona

[Gambas:Video 20detik]



(sip/rih)