Berawal dari Bukber, Keluarga Yogya Jadi Klaster: 10 Positif-1 Meninggal

Heri Susanto - detikNews
Senin, 10 Mei 2021 16:33 WIB
Poster
Ilustrasi virus Corona (Foto: Edi Wahyono)
Yogyakarta -

Klaster keluarga kembali ditemukan di Kota Yogyakarta. Kali ini, klaster Corona ini muncul di satu keluarga besar yang tinggal berdekatan di RT 56/RW 12 Kalurahan Wirobrajan, Kota Yogyakarta.

Dari hasil PCR sementara, 10 orang dinyatakan positif Corona dan seorang meninggal dunia. Ketua Harian Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 Kota Yogyakarta Heroe Poerwadi menyebut pihaknya masih melakukan tracing kasus.

"Kami telah lakukan tracing awal, 11 PCR, 10 (di antaranya) positif, 1 melakukan isolasi mandiri, dan 9 di rumah sakit. Satu negatif," ujar Heroe, saat diwawancarai di Balai Kota Yogyakarta, Senin (10/5/2021).

Heroe menyebut dari informasi Satgas PPKM Mikro, klaster keluarga ini diawali dari tidak disiplin protokol kesehatan. Bahkan ada acara buka bersama dengan keluarga besar.

"Sebab ada beberapa rumah yang terinfeksi COVID-19 dari mana mengawalinya kami masih mencari. Tetapi diduga ada beberapa hal yang bisa menjadi pemicu," terang Heroe.

"Ada juga persoalan kepadatan rumah permukiman kawasan ini. Bahkan ada juga yang sempat pijet, atau kerokan satu sama lain, karena mereka keluarga besar atau trah," sambungnya.

Selain itu, temuan satgas di lapangan, kawasan tersebut merupakan permukiman padat penduduk. Selain itu jarak rumah antarwarga juga berdekatan.

"Jadi bisa dibayangkan bahwa kawasan tersebut tentu sangat rawan terjadi sebaran kasus COVID- 19," katanya.

Kasus ini terungkap setelah salah seorang ibu lansia mengeluh sakit. Setelah diperiksa di rumah sakit, yang bersangkutan dinyatakan positif Corona dan sudah menularkan ke anak dan suaminya.

"Si ibu ini, yang memang memiliki komorbid akhirnya meninggal," jelasnya.

Penularan, kata Heroe, kemudian terjadi pada tetangganya yang juga masih berhubungan keluarga. Anak dari tetangga ini merupakan perawat rumah sakit dari luar kota, dan melakukan tes untuk keluarganya dengan hasil positif Corona. Begitu pun keluarga yang rumahnya berada di depan rumah ibu yang meninggal.

"Bahkan oleh keluarga besar, rumahnya sempat digunakan buka bersama oleh keluarga besarnya atau trahnya," ungkapnya.

Heroe menyebut klaster keluarga ini sulit ditelusuri karena padatnya permukiman penduduk. Selain itu, dia menyesalkan kurangnya kesadaran warga dengan protokol kesehatan.

"Penyebab lainnya adalah tidak tanggapnya keluarga terhadap gejala sakit yang dialami anggota keluarganya. Misalnya ada anggota keluarga yang tidak enak badan, flu, pilek atau batuk, tetapi malah ada yang pijet. Akhirnya tukang pijet yang juga saudaranya juga positif, dan ada juga yang saling kerokan. Dan semuanya itu baru ketahuan COVID setelah berhari-hari tidak sembuh dan dibawa ke rumah sakit," sesalnya.

Satgas juga sudah melakukan tes antigen terhadap 30 warga dengan hasil 20 orang dinyatakan positif, dan sisanya negatif. Saat ini ke-20 warga yang dinyatakan positif antigen ini diisolasi mandiri sembari menunggu hasil tes PCR.

"Hari ini kita siapkan 50 tes antigen, tetapi yang hadir baru 39 warga. Ini masih kita upayakan agar semua bisa menjalani tes antigen," jelasnya.

Dari kasus klaster keluarga ini, ada empat rumah yang dinyatakan positif Corona dan 11 rumah lain yang dinyatakan positif dari hasil tes antigen. Oleh Satgas PPKM Mikro, warga RT tersebut dibatasi mobilitasnya untuk mencegah sebaran kasus ke wilayah lainnya, sejak Kamis (6/5) lalu.

"Sejak Kamis lalu, oleh satgas PPKM Mikro, RT tersebut kita batasi mobilitasnya, ya semacam lockdown, untuk mencegah sebaran kasus ke wilayah lainnya. Serta untuk menurunkan kasus di wilayah tersebut. Kegiatan ibadah Ramadhan tidak di mesjid, tetapi di rumah masing-masing. Termasuk untuk salat Id mendatang, di wilayah itu juga dilakukan di rumah masing-masing," terang Heroe.

(ams/sip)