543 Orang Masuk Solo Saat Pengetatan Mudik, Ada yang Kena Corona

Ari Purnomo - detikNews
Rabu, 05 Mei 2021 11:09 WIB
Kapolresta Solo Kombes Ade Safri Simanjuntak, Rabu (5/5/2021).
Kapolresta Solo Kombes Pol Ade Safri Simanjuntak, Rabu (5/5/2021). (Foto: Ari Purnomo/detikcom)
Solo -

Sebanyak 543 pemudik diketahui sudah masuk Solo, Jawa Tengah selama diberlakukannya masa pengetatan mudik sejak 22 April lalu. Dari jumlah itu, terdapat seorang pemudik yang positif virus Corona atau COVID-19

"Mulai tanggal 22 April hingga saat ini tercatat ada 543 pemudik yang masuk Solo, satu di antaranya positif dari hasil testing GeNose di terminal Tirtonadi," jelas Kapolresta Solo Kombes Pol Ade Safri Simanjuntak kepada wartawan usai memimpin apel persiapan Operasi Ketupat Candi, Rabu (5/5/2021).

Data tersebut diketahui berdasarkan laporan dari Satgas COVID-19 dan Satgas Jogo Tonggo di Kota Solo. Pemudik yang positif Corona tersebut langsung dikarantina di Asrama Haji Donohudan, Boyolali.

"Hasil investigasi Jogo Tonggo dan satgas, begitu diidentifikasi pemudik dilakukan testing, dan diketahui ada satu yang positif," tuturnya.

Temuan ratusan pemudik itu tersebar dari beberapa titik. Di antaranya di terminal, stasiun dan juga di perkampungan. Ade menuturkan, pemudik berusaha masuk Solo saat aturan larangan mudik berlaku yakni mulai 6-17 Mei maka akan langsung dikarantina di Solo Technopark (STP) selama lima hari.

Ketua Pelaksana Harian Gugus Tugas COVID-19 Solo Ahyani menambahkan pihaknya sudah mengaktifkan Satgas Jogo Tonggo sejak beberapa waktu lalu.

"Masyarakat sudah menyampaikan ada pendatang baru. Di datanya JogoTonggo kan ada, itu juga dipantau," ungkapnya kepada wartawan hari ini.

Bagi para pemudik yang datang pada masa pengetatan mudik itu, kata Ahyani, diminta untuk melakukan karantina mandiri di rumahnya masing-masing.

"Mereka diminta melakukan isolasi mandiri. Protapnya kan begitu di masing-masing rumah tapi kan belum dilakukan pembatasan mudik seperti besok itu. Kalau sudah saat larangan mudik maka akan dilakukan karantina," urainya.

(sip/mbr)