Peringati Hari Pendidikan, Massa Gelar Aksi Seminar Jalanan di Yogya

Heri Susanto - detikNews
Minggu, 02 Mei 2021 17:15 WIB
Aksi Seminar Jalanan di di simpang empat UPN Yogyakarta, Ring Road Utara, Condongcatur, Kabupaten Sleman, Minggu (2/5/2021). Aksi ini digelar untuk memperingati hari pendidikan dan mengkritisi kebijakan Mendikbudristek Nadiem Makarim selama pandemi Corona.
Aksi Seminar Jalanan di di simpang empat UPN Yogyakarta, Ring Road Utara, Condongcatur, Kabupaten Sleman (Foto: Heri Susanto/detikcom)
Sleman -

Massa yang mengatasnamakan Masyarakat Warung Kopi menggelar aksi teatrikal untuk memperingati hari pendidikan nasional di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Mereka menyoroti ditutupnya aktivitas akademik namun tetap dibukanya wisata selama pandemi virus Corona (COVID-19).

Aksi teatrikal ini diberi nama Seminar Jalanan dan digelar di simpang empat UPN Yogyakarta, Ring Road Utara, Condongcatur, Kabupaten Sleman, Minggu (2/5/2021). Aksi ini dibuat mirip dengan suasana diskusi akademik pada umumnya dilaksanakan, terdapat panggung yang disediakan untuk pembicara sepaket dengan meja dan kursinya. Salah seorang massa aksi bahkan berperan sebagai Mendikbudristek Nadiem Makariem dan Rektor UPN Yogyakarta yang dihadirkan sebagai narasumber.

"Kami mengundang Menteri Pendidikan, Kebudayaan dan Riset Nadiem Makariem dan Rektor UPN Yogyakarta," kata Koordinator Lapangan (Korlap) Fahri Muhammad, di sela aksi di Sleman, (2/5/2021).

Fahri menyebut seminar pendidikan ini mengambil tema 'Mencari Tujuan Pendidikan Indonesia' sebagai bentuk kritik terhadap tujuan pendidikan saat ini. Di sisi lain, tertutupnya akses terhadap ruang-ruang pendidikan formal menjadi faktor utama seminar ini dilakukan di jalanan.

"Selama masa pandemi, ruang-ruang akademis ditutup dengan alasan menekan bertambahnya jumlah penyebaran COVID-19, akan tetapi bersamaan dengan itu akses terhadap sektor pariwisata dan ruang publik lainnya dibuka jauh lebih lenggang. Hal tersebut menjadi indikasi bahwa pemerintah sejatinya hanya berfokus untuk menyelamatkan perekonomian saja serta mengesampingkan sektor pendidikan dan kesehatan masyarakat," urainya saat orasi.

Aksi ini juga menyoroti soal pembelajaran yang dilakukan secara daring. Karena adanya perubahan pola pembelajaran tatap muka menjadi daring ini, metode pembelajaran pun pada akhinya harus diadaptasikan sesuai dengan fenomena baru yang dihadapi.

"Pemerintah khususnya Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi tampaknya memang tidak siap dengan situasi pandemi ini. Bahkan setelah lebih dari satu tahun pandemi berlalu, masih saja belum ditemukan metode pembelajaran efektif untuk memenuhi standar pendidikan nasional," terangnya.

Selain itu, aksi seminar pendidikan jalanan ini menuntut adanya penyelenggaraan pendidikan di Indonesia yang fokus pada pembentukan moralitas dan karakter.

"Oleh karena itu, perlu dilakukan koreksi secara menyeluruh mulai dari hulu hingga hilir sistem pendidikan dan implementasinya. sehingga terwujud suatu revolusi pendidikan yang nyata. Revolusi pendidikan ini pada akhirnya menjawab beban negara yang berkewajiban mencerdaskan kehidupan bangsa," jelasnya.

(ams/ams)