Round-Up

Klaster Corona Bermunculan di Jateng: dari Takziah hingga Ponpes

Angling Adhitya Purbaya - detikNews
Minggu, 02 Mei 2021 10:05 WIB
Poster
Ilustrasi virus Corona (Foto: Edi Wahyono)
Semarang -

Klaster penyebaran virus Corona atau COVID-19 kembali bermunculan di Jawa Tengah. Klaster Corona di Jateng ini terdiri dari klaster takziah, klaster ziarah, hingga klaster pondok pesantren (ponpes).

Dari catatan detikcom, Minggu (2/5/2021), ada pula klaster salat tarawih yang muncul di dua desa di Banyumas. Menurut salah seorang warga, saat salat tarawih itu banyak yang tidak menggunakan masker. Hal ini menjadi peringatan untuk tetap mematuhi protokol kesehatan COVID-19.

Berikut daftar 5 klaster Corona di Jateng dari ponpes, salat tarawih, ziarah, tilik bayi, dan mudik berdasarkan daerah penyebarannya:

1. Kota Tegal
Belasan murid dan guru di Ponpes Ikhsaniyah Kota Tegal terpapar Corona. Hal itu berawal ketika seorang santri dari daerah positif COVID-19.

Salah seorang santri itu lalu mengeluhkan gejala batuk, demam dan sesak napas. Tracing kemudian dilakukan kepada orang-orang di Ponpes termasuk MTs yang masih satu wilayah.

"Hasilnya 13 positif COVID-19 dari 78 yang di-swab. Terdiri dari 11 santri, dan 2 guru. Saat ini mereka sedang isolasi di Rusunawa Tegalsari dan sementara ponpes ditutup," kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Tegal dr Sri Primawati Indraswari di kantornya, Jumat (30/4/2021).

Terpisah, Kepala Kemenag Kota Tegal Ahmad Farhan mengatakan prokes sudah dilaksanakan ketat. Namun saat itu santri yang pertama kali diketahui positif Corona sempat meminta izin pulang karena keperluan mendesak. Setelah pulang kembali ke ponpes, santri itu mengeluh sakit.

"Ada kebutuhan mendesak keluar (kota) dan saat kembali ke pondok mengeluh sakit. Biasanya memang tidak diperbolehkan keluar kecuali ada hal penting," kata Farhan, di kantornya.

2. Banyumas
Klaster salat tarawih muncul di Desa Pekaja, Kecamatan Kalibagor, dan Desa Tanggeran, Kecamatan Somagede Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Total ada puluhan warga dari dua desa ini yang terpapar Corona.

Dari data yang disampaikan Bupati Banyumas Achmad Husein, kasus klaster tarawih Desa Pekaja, Kecamatan Kalibagor tercatat ada 45 warga yang terpapar Corona. Dari jumlah tersebut seorang dirawat di RSUD Banyumas, dan 44 orang lainnya menjalani isolasi mandiri dengan pengawasan ketat dari petugas puskesmas. Kemudian dari klaster Desa Tanggeran, Kecamatan Somagede, tercatat ada 7 orang yang positif Corona. Ketujuh orang ini menjalani Diklat di Baturaden.

"Total positif dari klaster tarawih 52 orang," kata Achmad Husein kepada wartawan, Jumat (30/4).

Sementara itu, warga Desa Pekaja yang semula menjalani isolasi mandiri akhirnya dievakuasi ke tempat karantina Diklat Baturraden, Jumat (30/4) malam. Puluhan warga tersebut dievakuasi menggunakan dua armada bus milik Dinas Perhubungan (Dishub) Banyumas.

"Ada dua bus yang digunakan untuk mengangkut klaster salat tarawih membawa 31 orang. Sebanyak 20 orang laki-laki dan sebelas lainnya perempuan dibawa ke rumah karantina diklat Baturraden," kata Kepala Dishub Banyumas, Agus Nur Hadie, saat dihubungi wartawan.

3. Purbalingga
Klaster santri juga ditemukan di Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Tercatat ada 25 santri di ponpes di Kecamatan Bukateja yang terpapar Corona.

Kepala Dinas Kesehatan Purbalingga dr Hanung Wikantono mengatakan awalnya santri dari ponpes yang juga merupakan siswa salah satu SMA melakukan screening dengan tes antigen untuk persiapan sekolah tatap muka atau pembelajaran tatap muka (PTM). Dari hasil pemeriksaan didapati tiga orang santri ponpes positif.

"Dari hasil itu kami lakukan testing PCR terhadap teman satu kamar (di ponpes), dari sebanyak 19 anak ditemukan delapan orang positif, kemudian dilanjutkan tracing terhadap 80 anak ditemukan 17 di antaranya positif," kata Hanung saat dihubungi detikcom lewat telepon, Sabtu (1/5/2021).

Kini seluruh santri yang dinyatakan positif sedang menjalani isolasi mandiri. Hanung menyebut kondisi yang terpapar Corona saat ini baik.

"Mereka itu kondisinya baik sebenarnya karena kategorinya orang tanpa gejala (OTG), sehat mereka," imbuhnya.

Tak hanya santri, Purbalingga juga mencatat ada klaster tilik bayi. Dari klaster di Kabupaten Rembang ini, tercatat ada 18 orang yang positif Corona usai rapid test antigen.

"Dari laporan yang masuk ada klaster baru lagi di Desa Tanalum, Kecamatan Rembang. Dari 25 orang yang dirapid test antigen 18 orang diketahui positif sementara 7 orang negatif," kata Kepala Dinas Kesehatan Purbalingga dr Hanung Wikantono saat ditemui detikcom, Sabtu (1/5).

Klaster ini bermula saat salah seorang warga pulang dari pengajian di Pekalongan. Warga tersebut memiliki bayi, sehingga ditengok oleh warga sekitar. Belakangan diketahui warga tersebut positif Corona.

"Anak dari orang yang ikut pengajian itu kebetulan punya bayi dan penduduk sekitar menengok bayi tersebut jadilah menyebar," jelasnya.

Selengkapnya soal klaster Corona di Jateng...

Simak video 'Klaster Bukber dan Tarawih Diwaspadai Jadi Superspreader Corona':

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2