Jejak Sunan Kalijaga di Kulon Progo, Dirikan Masjid Diwarnai Drama

Jalu Rahman Dewantara - detikNews
Selasa, 27 Apr 2021 04:20 WIB
Masjid Kedondong, peninggalan Sunan Kalijaga di Kulon Progo, Senin (26/4/2021).
Masjid Kedondong, peninggalan Sunan Kalijaga di Kulon Progo, Senin (26/4/2021). (Foto: Jalu Rahman Dewantara/detikcom)
Kulon Progo -

Masjid Kedondong di Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), menjadi saksi bisu perjalanan Sunan Kalijaga dalam menyebarkan agama Islam di Bumi Menoreh. Sejarah pembangunan masjid ini diselimuti drama yang melibatkan tokoh Wali Songo tersebut dengan muridnya. Bagaimana kisahnya?

Masjid Kedondong terletak di wilayah Dusun Semaken I, Kalurahan Banjararum, Kapanewon Kalibawang. Dari Kota Yogya jaraknya berkisar 22 km ke arah barat atau sekitar 50 menit perjalanan menggunakan kendaraan bermotor.

Masjid ini juga biasa disebut Masjid Sunan Kalijaga. Hal itu karena sosok yang membangun Masjid Kedondong adalah tokoh Wali Songo tersebut.

"Ini merupakan masjid cagar budaya yang dulunya didirikan oleh Sunan Kalijaga ketika mengembara dalam menyebarkan agama Islam bersama muridnya Adipati Terung," kata Takmir Masjid Kedondong, Solihudin Kosim, saat ditemui di lokasi, Senin (26/4/2021).

Solihudin bercerita pendirian masjid bermula saat Sunan Kalijaga beristirahat di dekat Sungai Tinalah, lokasi tak jauh dari masjid itu berdiri. Sunan Kalijaga kemudian memerintahkan Adipati Terung untuk mendirikan masjid di lokasi tersebut, sementara dirinya melanjutkan perjalanan menuju ke Demak.

Sebelum meninggalkan muridnya, Sunan Kalijaga menancapkan tongkat di lokasi itu sebagai tanda bahwa titik tersebut akan dibangun masjid.

"Namun lama kelamaan lokasi itu terkikis aliran sungai, sehingga oleh Adipati Terung titiknya digeser sekitar 100 meter ke arah timur, baru kemudian mulai proses pembangunan," jelasnya.

Langkah Adipati Terung yang memindahkan titik awal di lokasi baru mengundang kekecewaan Sunan Kalijaga. Ketika Sunan Kalijaga kembali ke sana ia merasa terkejut karena tidak sesuai dengan yang diharapkan.

"Dengan perkataan kecewa Sunan Kalijaga kemudian memberikan gelar Adipati Terung dengan nama Panembahan Bodo," terang Solihudin.

Kekecewaan itu bukan tanpa alasan. Sunan Kalijaga sengaja mematok tongkat di titik yang dekat dengan sungai supaya jemaah masjid nantinya lebih mudah memperoleh air. Meski begitu, kekecewaan itu hanya berlangsung sesaat. Pada akhirnya masjid tersebut berdiri dan digunakan hingga sekarang.

Solihudin mengatakan berdasarkan kepercayaan masyarakat setempat Masjid Sunan Kalijaga dibangun bersamaan atau lebih dulu dari Masjid Demak, atau sekitar tahun 1477, sedangkan Masjid Demak sendiri dibangun sekitar tahun 1478.

Karena sudah berabad-abad maka bangunan Masjid Sunan Kalijaga sudah beberapa kali mengalami renovasi. Terakhir renovasi dilakukan pada tahun 1990. Adapun barang cagar budaya yang masih lestari di masjid ini di antaranya empat saka guru, tanda bedug, mustaka (mahkota atap bangunan), pohon angsana, hingga sumur tua sebagai sumber air untuk wudu dan kehidupan masyarakat sekitar.

(sip/rih)