Sejarah Masjid dan Gapura Padureksan Warisan Dinasti Demak di Kudus

Dian Utoro Aji - detikNews
Jumat, 23 Apr 2021 04:20 WIB
Masjid Jami At Taqwa di Desa Loram Kulon, Kecamatan Jati, Kudus, Senin (19/4/2021).
Masjid Jami' At Taqwa di Desa Loram Kulon, Kecamatan Jati, Kudus, Senin (19/4/2021). Foto: Dian Utoro Aji/detikcom
Kudus -

Masjid Jami' At Taqwa yang terletak di Desa Loram Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, menyimpan cerita sejarah tentang sosok Sultan Hadirin menantu Sunan Kudus. Lalu bagaimana cerita sejarahnya?

Masjid Jami' At Taqwa yang yang dikenal dengan Masjid Wali Loram Kulon sudah dilakukan renovasi total pada tahun 1990-an silam. Kini bangunan yang masih asli adalah gapura di depan masjid. Gapura itu dikenal dengan gapura Padureksan.

Gapura tersebut berbentuk tumpukan batu merah. Gapura tersebut setinggi kurang lebih 5 meter. Pada gapura terdapat tiga pintu masuk ke masjid. Terdiri dari sebelah selatan, tengah dan utara. Namun hanya pintu tengah saja yang terlihat tertutup. Terdapat pintu yang terbuat dari kayu di bagian tengahnya.

Juru Pemelihara Masjid Jami'at Taqwa, Afroh Amaludin, mengatakan di Desa Loram Kulon terdapat benda peninggalan bersejarah. Yakni berupa gapura dan masjid Wali Loram Kulon.

"Di Desa Loram Kulon ada peninggalan bersejarah yang dikenal dengan benda cagar budaya yaitu berupa gapura dan masjid. Namun cagar budaya tinggal gapuranya, dikarenakan masjid sudah mengalami perubahan," kata Afroh saat ditemui di lokasi, Senin (19/4/2021).

Afroh menjelaskan masjid dan gapura merupakan satu-kesatuan. Gapura didirikan oleh Sultan Hadirin pada tahun 1596, sedangkan masjid baru didirikan pada tahun 1597. Kedua bangunan itu tidak dibangun secara bersamaan.

"Kenapa gapura dan masjid, itu satu ikatan gapura dan masjid. Untuk gapura itu didirikan 1596 sedangkan masjid didirikan 1597 ini ada tahapan tidak serentak, tapi bertahap," ungkapnya.

Masjid Jami' At Taqwa di Desa Loram Kulon, Kecamatan Jati, Kudus, Senin (19/4/2021).Masjid Jami' At Taqwa di Desa Loram Kulon, Kecamatan Jati, Kudus, Senin (19/4/2021). Foto: Dian Utoro Aji/detikcom

Menurutnya ada cerita tersendiri terkait dengan gapura yang berbentuk seperti pura. Konon, kata dia, Sultan Hadiri atau yang lebih terkenal dengan nama Sultan Hadirin membangun gapura bertujuan untuk mempermudah menyebarkan agama Islam di wilayah Loram Kulon dan sekitarnya. Terlebih dulu warga di Loram Kulon masyarakatnya memeluk agama Hindu.

"Sultan Hadirin sebagai tokoh penyebar agama untuk memudahkan dalam menyebarkan agama Islam, beliau menggunakan cara diterima oleh masyarakat dengan mendirikan bangunan gapura, yang bangunan itu dianggap oleh masyarakat sebagai tempat ibadah bagi orang yang dulu masih beragama Hindu," terang Afroh.

"Maka untuk arsitekturnya untuk gaya bangunannya seperti bangunan Hindu. Kalau Hindu dinamakan Pura, kalau di sini dinamakan Gapura. Gapura yang memiliki makna panggonan untuk nyuwun (minta) pangapura (maaf). Masyarakat belum bisa menyebutkan nama arab Gofuro maka dinamakan gapura. Maka untuk memudahkan nama Padureksa, terus sini namanya Gapura Padureksan," lanjut dia.

Selengkapnya di halaman selanjutnya...

Selanjutnya
Halaman
1 2