Nyadran ke Makam yang Hilang di Pesisir Semarang

Angling Adhitya Purbaya - detikNews
Sabtu, 10 Apr 2021 10:58 WIB
Nyadran ke makam yang hilang di pesisir Tambaklorok Semarang, Jumat (10/4/2021).
Nyadran ke makam yang hilang di pesisir Tambaklorok Semarang, Jumat (10/4/2021). (Foto: Angling Adhitya Purbaya/detikcom)
Semarang -

Lantunan Surat Yasin terdengar lirih bercampur dengan suara ombak di kawasan pesisir Tambaklorok Semarang, Jawa Tengah. Seorang pria menengadahkan tangannya sembari menghadap laut, untuk berziarah.

Tempat Pemakaman Umum Tambaklorok di lokasi itu memang sudah tak terlihat lagi karena dikikis abrasi dan air pasang yang akhir-akhir ini semakin tinggi. Namun masih banyak warga yang ingin datang untuk mendoakan leluhur atau keluarganya yang dimakamkan di sana.

Jelang Ramadhan, warga masih berdatangan demi melaksanakan tradisi Nyadran meski hanya bisa sampai di pinggiran pantai.

Salah seorang peziarah, Herman, warga Tambaklorok yang kini tinggal di Kudu, Genuk, Semarang itu cukup sedih dengan kondisi pemakaman yang hilang itu. Sekitar 3 tahun terakhir, Herman sudah tidak lagi melihat malam bahkan nisan milik ayahnya.

"Sudah tiga tahunan ini. Sekarang sudah sama sekali tidak bisa dilewati. Dulu masih bisa pakai perahu. Makam bapak masih jauh di sana," ujar Herman usai menabur bunga di pantai di Tambaklorok, Kamis (8/4/2021).

Jika air bisa surut, Herman berencana memindahkan makam ayahnya. Hal itu juga sudah dilakukan beberapa ahli waris ketika makam sudah mulai tenggelam.

"Insyaallah mau saya pindahkan. Kalau kayak gini masih sulit," ujarnya.

Nyadran ke makam yang hilang di pesisir Tambaklorok Semarang, Jumat (10/4/2021).Nyadran ke makam yang hilang di pesisir Tambaklorok Semarang, Jumat (10/4/2021). (Foto: Angling Adhitya Purbaya/detikcom)

Hal senada juga diungkapkan Eko Purwanti, wanita warga Cilosari Semarang. Ia berdoa untuk kedua orangtuanya yang dimakamkan di TPU Tambaklorok. Ia menyebut, area pemakaman tersebut sudah mulai tenggelam sejak sekitar tahun 2012.

"Itu masih ada tanahnya, kemudian makam saya buatkan rumah-rumahan biar agak tinggi. Tapi 2-3 tahun terakhir abrasi, jalan sudah tidak bisa dilewati," kata Purwanti.

Ia sempat mengalami kondisi Nyadran dengan menggunakan perahu. Tapi sejak tahun lalu seluruh makam sudah tenggelam.

"Naik perahu dulu itu, masih nampak. 2020 sudah hilang. Tahun kemarin sudah nggak bisa," ujarnya.

"Sedih sekali saya sudah tidak bisa langsung ke makam," imbuh Purwanti.

Beberapa warga telah memindahkan jasad keluarganya dari makam tersebut...

Tonton juga Video: Nyadran, Tradisi Unik Masyarakat Boyolali Untuk Mengingat Leluhur

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2