Round-Up

7 Fakta Menarik dari Temuan Prasasti Larangan Poligami di Era Majapahit

Dian Utoro Aji - detikNews
Selasa, 30 Mar 2021 08:59 WIB
Sebuah prasasti yang disimpan di Museum Kartini, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah memiliki isi pesan larangan poligami. Bagaimana kisah di baliknya?
Prasasti larangan poligami di era Majapahit (Foto: Dian Utoro Aji/detikcom)
Jepara -

Sebuah prasasti yang cukup unik disimpan di Museum Kartini, Jepara, Jawa Tengah. Prasasti yang masih ada kaitannya dengan Kerajaan Majapahit itu berisi tentang larangan berpoligami. Berikut tujuh fakta tentang penemuan Prasasti Candi Angin.

1. Ditulis dalam aksara Jawa Kuno
Prasasti itu diketahui bernama Prasasti Candi Angin. Prasasti tersebut disimpan di Museum Kartini di ruang Jepara Kuno. Bentuk prasasti persegi panjang, memiliki ketinggian 82 sentimeter, lebar 30 dan tebal 5 sentimeter.

Pada prasasti tersebut terdapat tulisan aksara Jawa Kuno. Terdapat dua sisi pada prasasti tersebut yang ada tulisan aksara Jawa Kuno itu.

2. Ditemukan pada tahun 2013
Kepala Bidang Kebudayaan pada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jepara, Ida Lestari mengatakan Prasasti Candi Angin tersebut ditemukan oleh warga asal Desa Tempur Kecamatan Keling pada tahun 2013 silam. Prasasti itu ditemukan di sekitar lokasi Candi Aso yang lokasinya di Desa Tempur.

"Prasasti Candi Angin itu ternyata ditemukan oleh seorang dari Dukuh Duplak Desa Tempur (Kecamatan Keling, Jepara) yang bernama Ahmad Juanedi di sekitar Candi Aso. Jadi Candi Aso itu candi yang pertama. Jadi Candi Angin itu kan ada tiga, Candi Aso, Candi Bubrah, dan Candi Angin itu sendiri yang berada di atas itu. Itu berada di lokasi Candi Aso, sekitar tahun 2013 ternyata," terang Ida kepada detikcom, Senin (29/3/2021).

3. Dibawa ke BPCB Jateng untuk diteliti
Ida menjelaskan prasasti itu setelah ditemukan pada tahun 2013 silam langsung dibawa ke Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah untuk diketahui isi sebenarnya tentang apa. Namun hingga tahun 2017 prasasti itu tidak ada kabarnya. Menurutnya dari dinas pun menelusuri keberadaan prasasti itu.

"Setelah penemuan itu dibawalah prasasti ke BPCB untuk diketahui sebenarnya ini apa. Setelah lama berselang tidak tahu kabarnya sekitar tahun 2017 sampai 2019 itu kita telusuri apakah di Balar (Balai Arkeologi) atau di BPCB. Ternyata ada di BPCB," terang Ida.

4. Prasasti dari Masa Kerajaan Majapahit
Ida mengatakan setelah dilakukan kajian dan penelitian prasasti itu diketahui lokasi di tempat penemuan merupakan tempat untuk ibadah sekitar abad 13 sampai 14 Masehi. Menurutnya prasasti itu masih ada kaitannya dengan Kerajaan Majapahit. Apalagi ada dugaan bahwa pelarian dari Kerajaan Majapahit sampai ke wilayah Tempur, Jepara.

"Setelah dilakukan pengkajian ekskavasi dan lainnya pokoknya, prasasti itu bisa disimpulkan itu sebagai tempat untuk ibadah waktu itu, sekitar abad 13 sampai 14 masehi. Karena itu masih nyambung yang ada di Trowulan sana, kerajaan Majapahit. Masa Majapahit ada orang bilang bahwa pelarian Kerajaan Majapahit itu menelusuri sampai ke wilayah Tempur," ucapnya.

"Karena bukti yang ditemukan genteng, namanya terakota hampir sama di daerah Trowulan. Sehingga dapat disimpulkan lari Majapahit itu sampai ke Tempur, Candi Angin," sambung Ida.



Selanjutnya: berisi larangan poligami

Selanjutnya
Halaman
1 2