Rencana Basmi Burung Pipit-Anggaran Jaring Rp 140 Juta di Sleman Disorot

ADVERTISEMENT

Rencana Basmi Burung Pipit-Anggaran Jaring Rp 140 Juta di Sleman Disorot

Jauh Hari Wawan S - detikNews
Kamis, 25 Mar 2021 21:36 WIB
Burung pipit jadi salah satu hewan yang paling dicari menjelang Imlek. Meningkatnya permintaan membuat para pedagang mulai gelar lapak berjualan burung pipit.
Burung pipit (Foto: Rifkianto Nugroho)

"Kalau kemarin belum (diketok) ini masih bagian dari pengajuan dari Dinas Pertanian. Dinas mengajukan beberapa program anggaran, mata anggaran baru kaitannya untuk penanganan hama," kata Arif saat dihubungi hari ini.

Dia menjelaskan rencana pembuatan jaring itu didasari dari keluhan petani akan hama burung pipit. Namun pihaknya juga tetap akan menunggu kajian burung pipit ini masuk kategori hama atau bukan.

"Jadi yang kategori hama itu baru kita coba identifikasi. Selama ini kita basmi tikus. Kalau burung emprit itu sedianya kalau sudah ditangkap nanti akan diolah menjadi lauk," katanya.

Selain itu dewan juga siap berdiskusi dengan akademisi perihal penanggulangan hama yang baik. Pihaknya juga tak ingin langkah menanggulangi hama bertabrakan dengan kebijakan pelestarian lingkungan.

"Kita belum bisa menyampaikan apakah burung emprit itu masuk dalam kategori hama seperti tikus, wereng, dan itu dibasmi. Tapi fakta itu mengganggu. Ketika sudah hampir panen pasti habis dimakan oleh burung emprit itu," pungkasnya.

Terpisah, Kepala Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan (DP3) Sleman Haru Saptono menjelaskan usulan ini muncul dari anggota dewan. Akan tetapi dinas pun mendukung usulan itu.

"Jadi anggaran itu kan memang diinisiasi dari teman-teman dewan karena memang di beberapa tempat itu gagal panen karena memang adanya serangan burung emprit," kata Heru dihubungi malam ini.

Heru menjelaskan, penambahan jaring ini diadaptasi dari budi daya ikan nila. Yang mana, di atas kolam ditempatkan jaring agar ikan tidak dimangsa oleh burung predator.

"Kalau yang ikan ini memang bukan burung emprit ya tapi kalau yang di padi memang burung emprit. Jadi atas dasar itu kemudian kita coba untuk mengusulkan anggaran pilot plan di tempat-tempat tertentu yang skalanya juga masih kecil untuk diujicobakan," jelasnya.

Penerapan jaring untuk menghalau burung pipit ini, kata Heru, baru akan dilakukan tahun ini. Anggarannya tak sampai Rp 200 juta untuk pemasangan jaring di beberapa titik. Terutama di sawah wilayah Sleman barat.

"Karena baru pilot plan ya belum banyaklah untuk anggaran, kurang dari Rp 200 juta agar ini diuji coba dulu. Nanti kita evaluasi dampaknya, manfaatnya kemudian implikasinya seperti apa," sebutnya.

"Sleman barat, karena memang satu, serangan empritnya sangat masif. Kedua kita uji coba di lahan kecil dulu untuk kemudian selanjutnya akan kita evaluasi efektivitas dan dampaknya bagi kehidupan emprit itu sendiri," sambungnya.

Menurut Heru, populasi burung pipit yang menyerang lahan pertanian padi di Sleman sangat banyak. Ia memperkirakan dalam sekali datang bisa mencapai ribuan burung pipit yang menyerang tanaman padi.

"Iya emprit itu kan datangnya rombongan, jadi rombongan dan setiap waktu dan itu secara bergelombang sehingga kemudian itu petani menjadi tidak panen karena tiap hari dimakan oleh emprit dan jumlahnya banyak sekali. Selama ini kan memang belum ada pengendalian hama emprit itu. Sehingga jumlahnya juga banyak," sebutnya.

Soal protes yang dilontarkan oleh para pegiat lingkungan, ia meminta untuk menunggu hasil uji coba yang diperkirakan dilakukan pada musim tanam padi tahun ini. Dari situ, dinas akan melakukan evaluasi dan menentukan langkah selanjutnya.

"Jadi menurut saya (burung pipit) termasuk tikus pun ya juga harus kita kendalikan biar petani panen. Nah saya tidak tahu kalau ada teman-teman penggiat lingkungan kemudian menanyakan hal ini ya nanti kita evaluasi dulu," terangnya.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT