Dugderan Semarang Jelang Ramadan Tahun ini Kembali Digelar Tanpa Perayaan

Angling Adhitya Purbaya - detikNews
Senin, 22 Mar 2021 12:30 WIB
Tradisi Dugderan sambut Ramadan di Semarang, Selasa (15/5/2018).
Kemeriahan tradisi Dugderan di Semarang pada tahun 2018 silam. (Foto: Angling Adhitya Purbaya/detikcom)
Semarang -

Tradisi Dugderan menjelang bulan Ramadan di Kota Semarang tahun ini akan kembali digelar tanpa keramaian seperti tahun lalu. Tidak ada pawai dan arak-arakan Warak Ngendhog seperti yang ramai digelar di masa sebelum pandemi virus Corona atau COVID-19 melanda.

Hal itu diungkapkan Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi atau Hendi. Ia mengatakan Dugderan sebenarnya tradisi ratusan tahun untuk menyiarkan akan memasuki bulan Ramadhan, maka hal itulah yang akan tetap dilaksanakan meski tanpa perayaan.

"Prosesi harus berjalan karena ini tradisi. Kita tidak melupakan tradisi tersebut. Modelnya yang diringkas agar tidak melibatkan banyak orang, contohnya satu, misalnya arak-arakan tidak perlu," kata Hendi kepada wartawan di Balai Kota Semarang, Senin (22/3/2021).

Acara intinya akan berlangsung di Masjid Agung Semarang Kauman. Di sana Forkopimda hadir dan Hendi membacakan Suhuf Halaqof dilanjutkan dengan menabuh bedug sebagai tanda akan memasuki bulan Ramadhan.

"Prosesi mewartakan ini dari Balai Kota dari Forkopimda akan ke Masjid Kauman. Menemui para kiai untuk disiarkan kerena sebentar lagi Ramadhan," kata Hendi.

"Menyambut Ramadan ada tapi tidak dibesar-besarkan," pungkasnya.

Untuk diketahui, Dugderan biasanya menjadi tradisi yang semakin berjalannya waktu diwarnai dengan pawai dan arak-arakan yang meriah serta menghibur. Pawai biasanya diawali penabuhan beduk di Balai Kota oleh Wali Kota yang berperan sebagai Kanjeng Bupati Raden Mas Tumenggung Arya Purbaningrat.

Peserta pawai berasal lintas agama dan biasanya membawa arak-arakan Warak Ngendhog. Warak merupakan hewan fantasi yang menyimbolkan kerukunan etnis di ibu kota Jawa Tengah itu. Hal tersebut terlihat dari kepala naga yang menyimbolkan etnis Tionghoa, badan unta menyimbolkan Arab, dan kaki kambing menyimbolkan Jawa.

Kemudian prosesi inti dari Dugderan adalah penyerahan Suhuf Halaqoh dari alim ulama Masjid Kauman kepada Kanjeng Bupati Arya Purbaningrat. Suhuf Halaqof itu dibacakan, kemudian dilakukan pemukulan beduk disertai suara petasan meriam. Dua suara itulah yang menjadi cikal bakal nama acara Dugderan, yaitu 'dug, dug, dug,' suara beduk dan 'der, der, der,' suara meriam.

Simak video 'Jadwal Puasa Rajab, Bacaan Niat dan 6 Keutamaannya':

[Gambas:Video 20detik]



(sip/mbr)