Sultan HB X Lontarkan Sinyal Bahasa Daerah Punah 75 Tahun Mendatang

Pradito Rida Pertana - detikNews
Senin, 22 Mar 2021 11:40 WIB
Pembukaan Kongres Aksara Jawa I di Yogyakarta
Pembukaan Kongres Aksara Jawa I di Yogyakarta. (Foto: Pradito R Pertana/detikcom)
Yogyakarta -

Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X menengarai kemungkinan punahnya bahasa daerah karena tak lagi digunakan oleh masyarakat. Sultan melontarkan sinyal kemungkinan bahasa daerah akan punah pada generasi ketiga atau sekitar 75 tahun mendatang.

Hal tersebut dilontarkan Sri Sultan HB X saat membuka Kongres Aksara Jawa I yang digelar di Yogyakarta, hari ini. Sultan berharap acara tersebut dapat menaikkan minat baca dan tulis aksara Jawa agar terhindar dari kepunahan bahasa.

Dalam sambutan yang dilakukan secara daring, Sultan mengutip pendapat Barbara Grimes yang menengarai fenomena kepunahan bahasa daerah bisa disebabkan karena penurunan drastis jumlah penutur aktif, ranah penggunaannya semakin berkurang, pengabaian bahasa ibu oleh penutur usia muda, usaha memelihara identitas etnik tanpa bahasa ibu, generasi terakhir tidak mahir berbahasa ibu, dan semakin punahnya dialek-dialek satu bahasa oleh keterancaman bahasa Indo dan bahasa gaul.

"Kalau pun tidak punah sepenuhnya, karena masih adanya pemertahanan bahasa (langague maintenance), atau terjadi pergeseran bahasa (language shift) dan perubahan bahasa (language change) ke bahasa Nasional," demikian disampaikan Sultan HB X dalam sambutannya, Senin 22/3/2021).

Kongres Aksara Jawa I ini digelar di Hotel Grand Mercure, Kota Yogyakarta, digelar tanggal 22-26 Maret 2021.

Sultan melanjutkan dengan mengutip pendapat ahli yang menggunakan hipotesa sosiolinguistik bahwa semakin muda usia penutur yang tidak lagi mahir menggunakan bahasa ibu maka semakin cepat mengalami kepunahannya.

"Jika bahasa daerah hanya digunakan oleh penutur berusia 25 tahun ke atas dan usia yang lebih muda tidak menggunakannya, jangan disesali jika 75 tahun ke depan atau tiga generasi, bahasa itu akan terancam punah," lanjut Sultan.

Di era digital, Sultan berharap ada upaya agar aksara daerah dianggap eksis, harus menggunakan media digital, dengan dukungan penutur yang memadai. Seperti halnya aksara Mesir kuno, hierogliph, sebenarnya aksara Jawa tidak tertinggal jauh dalam memasuki era digital, karena 26 tahun yang lalu telah terdaftar di Unicode.

(mbr/sip)