Seratusan Siswa SMK Tak Mampu di Sragen Nunggak Biaya Sekolah

Andika Tarmy - detikNews
Jumat, 19 Mar 2021 20:51 WIB
SMK Pelita Bangsa, Sumberlawang, Sragen, Jawa Tengah. Foto diambil sebelum pandemi virus Corona.
SMK Pelita Bangsa, Sumberlawang, Sragen, Jawa Tengah. Foto diambil sebelum pandemi virus Corona. (Foto: dok. SMK Pelita Bangsa Sragen)
Sragen -

Seratusan siswa tidak mampu di SMK Pelita Bangsa Sumberlawang, Sragen, Jawa Tengah, disebut belum melunasi administrasi sekolah bahkan hingga bertahun-tahun setelah lulus. Berlangsung sejak tahun 2014, tunggakan kewajiban para siswa tidak mampu ini mencapai seratusan juta.

"Menurut catatan kami, sejak tahun 2014 hingga 2019 ada kewajiban sekitar Rp 174.445.000. Ini belum termasuk (lulusan) tahun 2020 karena dianggap masih bisa membayar," ujar Kepala Sekolah SMK Pelita Bangsa Sumberlawang, Andi Kusnanto, kepada detikcom, Jumat (19/3/2021).

Andi menyebut, dengan rataan tunggakan per anak sebesar Rp 1 juta rupiah, jumlah siswa yang masih belum menyelesaikan kewajibannya mencapai sekitar 174 siswa. Dana tersebut merupakan uang selama proses pendidikan yang belum dibayarkan bahkan hingga para siswa tersebut lulus sekolah.

"Sekitar 174 anak. Untuk data by name-nya kita ada. Jadi mayoritas adalah biaya selama proses pendidikan seperti uang SPP, uang ujian dan praktik," terangnya.

Andi mengatakan, pihaknya memang tidak pernah menagih kewajiban para siswa tersebut. Pasalnya, hal ini sudah menjadi kebijakan pihak sekolah untuk membantu para siswa tak mampu.

"Sekolah tidak pernah menagih. Karena mayoritas siswa yang masuk sekolah kami mayoritas tidak mampu secara ekonomi, makanya pihak sekolah memberikan keringanan. Pihak sekolah hanya bisa berdoa saja," terangnya.

Para siswa yang belum membayar uang tersebut, lanjutnya, hampir semuanya tidak mengambil ijazah pasca kelulusan. Meski begitu, pihak sekolah mengaku tidak pernah menahan ijazah ratusan siswa tersebut.

"Karena orang Jawa ya, mereka mungkin merasa pekewuh (tidak enak hati). Akhirnya banyak yang memilih menitipkan ijazahnya di sekolah. Sekolah tidak pernah menahan ijazah mereka, banyak yang ketika mereka butuh ijazah untuk bekerja, sekolah pasti memfasilitasi bahkan mengantarkan ijazah mereka," imbuhnya.

Andi menyebut, seiring berjalannya waktu, banyak siswa yang sudah mulai bisa memiliki penghasilan, mendatangi sekolah untuk membayar kewajiban mereka. Meski banyak juga yang hingga sekarang masih menunggak.

"Tahun 2017 jumlahnya masih sekitar Rp 250 juta. Kemudian banyak siswa yang sudah bekerja kemudian berinisiatif untuk membayar ke sekolah," kata dia.

Selanjutnya, tunggakan biaya disebut bisa mengancam kelangsungan sekolah...