ADVERTISEMENT

Arca Tanpa Kepala di Jalan Klaten Diduga Seumuran dengan Prambanan

Achmad Syauqi - detikNews
Selasa, 16 Mar 2021 15:29 WIB
BPCB cek arca tanpa kepala di perempatan jalan di Klaten, Selasa (16/3/2021).
BPCB Jateng cek arca tanpa kepala di perempatan jalan di Klaten, Selasa (16/3/2021). (Foto: Achmad Syauqi/detikcom)
Klaten -

Tim Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah mengecek laporan masyarakat tentang arca tanpa kepala di perempatan jalan Desa Senden, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Klaten. Arca tersebut diperkirakan buatan abad 8-9 Masehi.

"Ini diperkirakan era abad 8-9 Masehi saat Mataram kuno, seusia candi-candi di Prambanan. Tapi sudah tidak jelas jenisnya," ungkap Pamong Budaya Madya BPCB Jateng Deni Wahyu Hidajat pada detikcom di lokasi, Selasa (16/3/2021).

Pantauan detikcom di lokasi, tim dari BPCB Jateng yang datang mengecek arca tanpa kepala itu berjumlah tiga orang. Mereka tiba di Balai Desa Senden pukul 11.30 WIB siang tadi. Setelah berkoordinasi dengan perangkat desa, tim mengecek ke lokasi lalu mengambil gambar dan mengukur dimensi arca.

Menurut Deni, dari bentuk fisiknya arca tersebut berupa berbentuk sesosok orang dengan posisi bersila. Hiasan yang tersisa hanya ikat pinggang dan kainnya.

"Posisi bersila, ada ikat pinggangnya dan kain yang dilipat di depannya. Yang lainnya sudah tidak terbaca," jelas Deni.

Untuk menentukan identitas arca, kata Deni, sudah sulit. Sebab sebagian badan dan ornamen pakaiannya sudah rusak.

"Sudah sulit. Kalau Ganesha atau Resi Agastya jelas bukan, karena ini badannya ramping dan tidak ada belalai gajah (seperti) pada Ganesha," ucap Deni.

Bahan arca tersebut, terang Deni, sama dengan arca pada umumnya berbahan batu andesit. Hanya warnanya tidak hitam gelap.

"Mungkin karena pelapukan oleh hujan, panas, dan cuaca," sambung Deni.

Menurut Deni, arca tersebut tidak dibawa ke BPCB karena masyarakat dinilai sanggup merawatnya. Sebuah benda cagar budaya juga dinilai lebih baik di lokasi asalnya.

"Kita hanya mendata dan masyarakat bisa merawatnya sebab arca itu batu yang ada nilai sejarahnya," sambung Deni.

Jika melihat fisik arca, rinci Deni, arca tersebut adalah arca yang berdiri sendiri, bukan umumnya bagian dari bangunan candi. Bisa jadi, arca itu dimiliki orang terpandang di masa lalu.

"Kalau ornamen candi saya kira bukan. Ini berdiri sendiri dan mungkin dimiliki tokoh masyarakat di masa lalu," tutur Deni.

Seorang warga yang merawatnya, Jumiyem (50), mengatakan arca itu dulu dibawa ayahnya saat Jumiyem masih kecil. Awalnya arca itu memiliki kepala tapi akhirnya rusak.

"Dibawa bapak saat saya masih kecil. Dulu ada kepalanya, tapi rusak setelah kandang kambing dibangun," jelas Jumiyem di lokasi.

(sip/ams)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT