ADVERTISEMENT

Raib Misterius, Begini Makna Nisan Kayu Bertumpuk-tumpuk di Gunungkidul

Aditya Mardiastuti - detikNews
Sabtu, 13 Mar 2021 18:02 WIB
Salah seorang ahli waris, Supardiyono menunjukkan foto kondisi makam Kiai Merto Karyo sebelum belasan kayu nisannya hilang di Gunungkidul, Jumat (12/3/2021).
Salah seorang ahli waris, Supardiyono menunjukkan foto kondisi makam Kiai Merto Karyo sebelum belasan kayu nisannya hilang di Gunungkidul, Jumat (12/3/2021). Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom
Yogyakarta -

Nisan kuno milik almarhum Kiai Merto Karyo dan istrinya di Gunungkidul yang terdiri dari kayu jati kuno bertumpuk hilang diduga dicuri orang-orang misterius yang belum diketahui identitasnya. Makam Kiai Merto memiliki susunan 9 tumpuk kayu, sedangkan istrinya memiliki susunan 8 tumpukan kayu. Apa maknanya?

"Angka 9 merupakan angka yang paling besar dalam perhitungan angka Jawa. Kemudian angka 8 bisa berarti 8 penjuru arah mata angin," kata dosen Jurusan Sastra Arab Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM, Abdul Jawat Nur, kepada detikcom, Jumat (12/3/2021).

Jawat menerangkan perbedaan jumlah tumpukan itu bukan berarti pria lebih tinggi daripada perempuan. Melainkan posisinya saling melengkapi.

"Bukannya laki-laki lebih tinggi tapi saling melengkapi. Laki-laki sebagai pemimpin keluarga, wanita pendamping suami," jelas Jawat.

"Terkait yang di makam, itu kemungkinan ada hubungannya dengan ajaran yang pernah diajarkan tokoh yang meninggal kepada muridnya dan juga masyarakat di sekitarnya," sambungnya.

Untuk penggunaan kayu jati, kata Jawat, bisa juga dimaknai untuk menghormati pemilik makam. Di sisi lain, penggunaan kayu jati sebagai nisan juga bisa karena menggunakan bahan yang tersedia di daerah tersebut. Jawat menyebut jika orang yang meninggal merupakan tokoh, maka bahan yang digunakan akan semakin berkualitas.

"Biasanya pilihan itu berdasarkan bahan baku yang ada di sekitar orang yang meninggal. Jati yang dipakai tokoh masyarakat pada waktu itu adalah jati yang berkualitas super, itu sebagai bentuk penghormatan kepada tokoh yang meninggal," urai Jawat.

Mengutip falsafah Jawa, kayu jati dimaknai sebagai pengingat manusia pada dasarnya akan mati. Sehingga penggunaan kayu jati sebagai nisan, kata Jawat, bisa dimaknai sebagai pengingat akan kematian.

"Kayu jati yang dijadikan nisan sebagai simbol bahwa sejatining manungso bakale mati (sejatinya manusia akan mati). Suatu pelajaran bagi kita agar memahami diri kita yang sejati sebagai manusia. Kita berasal dari Tuhan dan bakal kembali ke Tuhan," jelas dia.

Sebelumnya diberitakan, salah seorang ahli waris Merto Karyo, Supardiyono (58), menceritakan makam leluhurnya itu merupakan salah satu tokoh terpandang di daerahnya. Sehingga makam kedua leluhurnya itu dibuat bertumpuk.

"Dulu (Merto Karyo) ini orang terpandang, dulu dipanggil lurah meskipun bukan pak lurah," kata salah seorang ahli waris Merto Karyo, Supardiyono (58), kepada wartawan, Jumat (12/3).

"Tapi sekarang masing-masing makam hanya tersisa dua tumpukan kayu, karena yang diambil mencapai 13 buah (nisan kayu)," ucapnya.

Selengkapnya soal nisan kayu bertumpuk di makam Gunungkidul..

Simak juga 'Situs Bangunan Kuno di Lereng Bromo, Diduga dari Kerajaan Singasari':

[Gambas:Video 20detik]



ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT