Lebih Dekat dengan Pengikut Ajaran Sikep yang Tinggal di Kudus

Dian Utoro Aji - detikNews
Minggu, 07 Mar 2021 19:22 WIB
Budi Santoso, tokoh Sedulur Sikep di Kudus
Budi Santoso, tokoh Sedulur Sikep di Kudus. (Foto: Dian Utoro Aji/detikcom)
Kudus -

Keberadaan Sedulur Sikep tidak lepas dengan kemunculan ajaran (alm) Samin Surosentiko seorang tokoh asal Blora, Jawa Tengah. Hingga kini Penganutnya tersebar di sejumlah kabupaten di Jateng dan Jatim, termasuk di Kudus. Bagaimana ceritanya bisa berkembangan di Kudus?

Sedulur Sikep yang dikembangkan Surosentiko adalah sebuah sikap menjalani kehidupan yang selaras dan menyatu dengan alam. Pengikutnya lalu berkembang di Blora, Grobogan, Kudus, Pati, Rembang bahkan Bojonegoro.

Mereka menjalani hidup sebagai petani, selalu mengenakan pakaian serba hitam dengan celana khas pekerja ladang, dan selalu berkomunikasi dengan siapapun memakai bahasa Jawa strata bawah atau ngoko.

Sedulur Sikep di Kudus tinggal di sebuah desa, yakni Larikrejo Kecamatan Undaan. Mereka tinggal berbarengan dengan warga umumnya. Selain di Larikrejo, sedulur sikep juga tinggal di Dukuh Kaliyoso Desa Karangrowo dan Kutuk Kecamatan Undaan.

Tokoh Sedulur Sikep Kabupaten Kudus, Budi Santoso menuturkan ada cerita tersendiri di Kudus ada Sedulur Sikep. Terlebih Sedulur Sikep juga menyebar seperti di Pati hingga Blora daerah asalnya.

"Karena sejarah Sedulur sikep secara lisan, maka bisa disebut tidak sama. Saya ini dirunut dari ketokohan, jadi ceritanya bapak dulu di Kudus orang pertama yang belajar tentang Sedulur Sikep, terus yang pertama itu di Larikrejo ini. Ini jika dirunut masih buyut saya dari ibu," kata Budi dalam bahasa Jawa yang sudah diterjemahkan oleh detikcom, saat ditemui di rumahnya Desa Larikrejo, Minggu (7/3/2021).

Budi menjelaskan bahwa dulu buyutnya, Radiwongso, merupakan murid langsung dari Samin Surosentiko. Pada saat itu Radiwongso belajar di Blora dengan Surokidin menantu Samin Surosentiko setelah Samin ditangkap oleh Belanda.

Budi menjelaskan ajaran Sedulur Sikep dikenal menentang pada zaman era penjajahan Belanda. Sebab waktu itu orang-orang Sedulur Sikep tidak suka tanah Jawa dijajah oleh Belanda.

"Ajaran Sikep sebelum era Belanda sudah ada, era Belanda itu pergerakan melawan Belanda meneruskan warisan leluhur Jawa. Di sana Samin menganggap Belanda adalah penjajah, leluhur tidak mau dijajah, sebab tanah Jawa merupakan warisan nenek moyang," ucap Budi.

Selanjutnya
Halaman
1 2