Prostitusi Anak Berkedok Wisma Plus-plus di Pemalang Terbongkar

Robby Bernardi - detikNews
Jumat, 05 Mar 2021 16:49 WIB
Pemilik wisma sekaligus muncikari di Pemalang, MS (baju kuning) saat dimintai keterangan di Satreskrim PPA Polres Pemalang
Pemilik wisma sekaligus muncikari di Pemalang, MS (baju kuning), saat dimintai keterangan di Satreskrim PPA Polres Pemalang. (Foto: dok. Polres Pemalang)
Pemalang -

Prostitusi anak di bawah umur berkedok bisnis wisma plus-plus di wilayah Kecamatan Moga, Pemalang, Jawa Tengah, dibongkar polisi. Pemilik sekaligus muncikari, MS (29), ditangkap dan kini diperiksa Unit PPA Satreskrim Polres Pemalang.

Bisnis ini terungkap dari adanya laporan warga yang curiga dengan aktivitas mencurigakan di wisma tersebut. Hampir setiap hari, warga melihat anak-anak perempuan di bawah umur keluar-masuk di wisma milik MS itu.

"Terungkapnya ini, berawal dari informasi warga, ke kita. Anggota kita kemudian melakukan pendalaman dan benar adanya ada kegiatan yang dimaksud itu," kata Kapolres Pemalang, AKBP Ronny Tri Prasetyo Nugroho, kepada wartawan, Jumat (5/3/2021).

Ronny menyebut MS ditangkap pada Kamis (4/3) kemarin. MS tertangkap basah saat tengah mempertemukan korban dengan pria hidung belang.

"Pelaku, kita amankan saat menawarkan korban pada pemesannya," terang Ronny.

Kepada polisi, MS mengaku menawarkan jasa esek-esek senilai Rp 500 ribu untuk sekali kencan dan berlaku untuk short time. Uang itu lalu dibagi dengan korban sebesar Rp 150 ribu, sedangkan untuk sewa kamar dan jasa muncikari dikenakan tarif Rp 150-200 ribu.

Ronny mengungkap MS menawarkan jasa wisma plus-plus kepada calon pelanggannya dengan koleksi foto-foto para korban di bawah umur miliknya. Selain mengamankan MS, polisi juga mengamankan seorang korban dan tamunya untuk dimintai keterangan.

Dalam kasus ini, polisi menyita uang senilai Rp 500 ribu dan dua ponsel. Atas perbuatannya, MS dijerat dengan pasal berlapis, yakni pasal 81 dan atau pasal 82 UU RI Nomor 17 tahun 2016 tentang penetapan peraturan pemerintah pengganti UU RI Nomor 1 tahun 2016 tentang perubahan kedua atas UU RI Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak atau pasal 88 UU nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan hukuman kurungan maksimal 15 tahun.

"Kita jerat dengan pasal berlapis, dengan ancaman hukuman maksimal lima belas tahun penjara," sebut Ronny.

(ams/rih)