Ketemu Usai Raib Hampir Seabad, Apa Itu Luweng yang Ramai Dicari di Wonogiri?

Aris Arianto - detikNews
Rabu, 03 Mar 2021 17:41 WIB
Luweng yang sempat hilang selama 93 tahun akhirnya ditemukan di Desa Sumberagung, Kecamatan Pracimantoro, Wonogiri.
Luweng yang sempat hilang selama 93 tahun akhirnya ditemukan di Desa Sumberagung, Kecamatan Pracimantoro, Wonogiri. (Foto: Istimewa/relawan Desa Sumberagung Wonogiri)
Wonogiri -

Dua luweng di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah ditemukan warga dan relawan setelah hilang hingga hampir seabad lamanya. Apa itu luweng yang hingga kini masih terus dicari di Wonogiri?

Luweng merupakan lubang mirip gua vertikal yang berfungsi sebagai saluran air alami di wilayah karst. Luweng biasanya hilang karena tertutup sedimentasi atau tersumbat dedaunan atau tanaman.

Ketika luweng tertutup sedimen atau tersumbat, maka di wilayah itu air tidak bisa mengalir ke dalam tanah. Sehingga saat turun hujan deras di wilayah karst dalam durasi lama menyebabkan genangan hingga banjir.

"Luweng ini berfungsi menjadi semacam drainase alami terutama di kawasan karst. Jadi keberadaannya sangat vital. Kalau tersumbat maka air tidak bisa mengalir bisa memicu banjir," jelas Kepala Pelaksana BPBD Wonogiri, Bambang Heryanto, saat dihubungi detikcom, Rabu (3/3/2021).

Bambang menjelaskan luweng terbentuk secara alami. Terjadi dari proses pelapukan bebatuan di kawasan karst. Proses ini bisa berlangsung dalam waktu sangat lama.

"Bebatuan karst lapuk dan larut, dengan bantuan air terus berlangsung kemudian terciptalah saluran dalam tanah berupa luweng itu," papar dia.

Luweng ada yang berukuran besar, ada yang kecil. Ada yang awalnya berbentuk vertikal beberapa meter kemudian menjadi horizontal. Namun belum bisa diketahui berapa kedalaman atau panjang luweng di Kabupaten Wonogiri.

"Tentu ahlinya yang bisa menjelaskan, termasuk mungkin bedanya dengan gua," ujar dia.

Di wilayah Wonogiri bagian selatan tercatat lebih dari 200-an luweng atau sumur dalam alami vertikal. Dari jumlah itu sekitar 50-an buah termasuk berukuran besar.

"Total lebih dari 200-an, kalau yang besar sekitar 50-an," ungkap dia.

Bambang membeberkan ratusan luweng tersebar di wilayah Wonogiri selatan. Meliputi Kecamatan Paranggupito, Pracimantoro, Eromoko, Giriwoyo, Manyaran, dan Giritontro.

Hingga saat ini masih ada luweng-luweng yang diperkirakan hilang atau tertimbun sedimentasi di Wonogiri tapi jumlahnya belum diketahui secara pasti. Sejumlah daerah seperti Kecamatan Pracimantoro, masih berupaya mencari keberadaannya dengan bantuan alat berat.

"Sebagian mulut luweng sudah diberi penyaring sampah dari anyaman besi, sebagian lagi belum dipasangi," jelas dia.

Dia mengimbau warga Wonogiri untuk menjaga agar luweng tidak tertimbun, tersumbat sampah maupun sedimentasi. Supaya drainase alami ini berfungsi dengan baik.

Sebelumnya diberitakan, Camat Pracimantoro, Warsito, mengungkap banjir akibat luweng tersumbat telah beberapa kali terjadi di wilayahnya. Meski telah dibersihkan secara berkala, air yang datang kadang membawa serta material penyumbat di mulut luweng.

(sip/ams)