Praktik Pembuatan Pestisida Palsu di Brebes Terbongkar

Imam Suripto - detikNews
Jumat, 26 Feb 2021 17:56 WIB
Polisi bongkar pabrik pestisida palsu di Brebes, Jumat (26/2/2021).
Konferensi pers kasus pestisida palsu di Brebes. (Foto: Imam Suripto/detikcom)
Brebes - Polisi membongkar praktik pembuatan pestisida palsu di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Tiga orang ditangkap yakni pemilik pabrik dan pengedarnya.

"Jadi ini ada dua kasus. Pertama pembuat pestisida palsu dan kedua adalah pengedar pestisida palsu," ujar Kapolres Brebes AKBP Gatot Yulianto kepada wartawan, Jumat (26/2/2021).

Dari dua kasus tersebut, polisi menangkap tiga orang yakni pemilik pabrik pestisida palsu, S (63) dan dua pengedarnya yakni L (59) dan SP (60).

Pabrik pestisida palsu yang digerebek polisi pada Sabtu (20/2) lalu terletak di Desa Banjarharjo, Kecamatan Banjarharjo.

Sedangkan beberapa barang bukti yang disita polisi di antaranya peralatan dan perlengkapan pembuat pestisida palsu, ratusan botol bekas pestisida berbagai merek, tutup botol, segel, cairan kimia, bubuk kimia, label kemasan berbagai merek, plastik kemasan dan produk pestisida palsu siap edar. Yulianto mengungkap tiga pelaku dijerat dengan pasal berlapis.

"Para tersangka ini dikenai Pasal 123 Jo Pasal 77 ayat (1) UU RI No 22 tahun 2019 tentang Sistem Budidaya Pertanian Berkelanjutan dan Pasal 62 ayat (1) Jo Pasal 8 ayat (1) huruf e UU RI No 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Ancaman hukumannya 7 tahun penjara," urai Yulianto.

Diwawancara dalam kesempatan yang sama, pemilik pabrik, S, mengaku pestisida palsu produksinya dijual langsung ke petani. Harga pestisida palsu buatan S bervariasi mulai Rp 75 ribu.

"Nanti diberi merek sendiri dan kemudian dijual di petani petani," kata S.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Brebes Yulia Hendrawati menambahkan, Brebes yang merupakan daerah agraris menjadi incaran pemasaran produk pertanian.

"Adanya pestisida palsu ini, jelas sangat merugikan petani. Pestisida palsu ini akan merusak produksi, jadi produksinya tidak sesuai dengan yang diharapkan," kata Yulia. (sip/ams)