Mengenal Sejarah Petilasan Ratu Kalinyamat di Jepara

Dian Utoro Aji - detikNews
Minggu, 21 Feb 2021 10:34 WIB
Juru kunci petilasan Ratu Kalinyamat menunjukkan silsilah Ratu Kalinyamat, Kamis (18/2/2021).
Juru kunci petilasan Ratu Kalinyamat menunjukkan silsilah Ratu Kalinyamat, Kamis (18/2/2021). Foto: Dian Utoro Aji/detikcom
Jepara -

Di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, terdapat petilasan Ratu Kalinyamat. Konon lokasi itu sebagai tempat bertapa Ratu Kalinyamat. Lalu, seperti apa ceritanya?

Petilasan Ratu Kalinyamat berada di Desa Tulakan, Kecamatan Donorojo. Lokasinya dari pusat kota Jepara berjarak sekitar 38 kilometer atau ditempuh berkendara sekitar 1 jam. Petilasan berada di tengah pohon yang rimbun. Di depan masuk terdapat gapura dari batu bata kuno.

Juru kunci petilasan Ratu Kalinyamat, Muchlisin, menceritakan lokasi tersebut adalah tempat Ratu Kalinyamat menyendiri dan berdoa meminta keadilan kepada Allah, setelah suaminya Sultan Hadirin terbunuh oleh Arya Penangsang.

"Ini pertapaan Kalinyamat. Ini dulunya bertapa di sini. Kenapa dulunya bertapa di sini, diawali terbunuhnya Sultan Hadirin, itu suami Ratu Kalinyamat terbunuh Arya Penangsang. Kemudian Ratu Kalinyamat ingin meminta keadilan kepada Allah kepada Tuhan, agar sang pembunuh suaminya mendapatkan hukuman yang setimpal dari Allah," kata Muchlisin saat ditemui di lokasi, Kamis (18/2/2021).

"Maka Ratu Kalinyamat menyendiri, orang Jawa mengatakan tapa atau semedi, atau yang dinamakan dengan istilah tapa wudo (tanpa busana) senjang rambut di sini," sambung dia.

Petilasan Ratu Kalinyamat, Jepara, yang tertimpa pohon tumbang, Kamis (18/2/2021).Petilasan Ratu Kalinyamat, Jepara, yang tertimpa pohon tumbang, Kamis (18/2/2021). Foto: Dian Utoro Aji/detikcom


Menurutnya, kejadian itu berlangsung pada tahun 1445 Masehi lalu. Muchlisin mengatakan Ratu Kalinyamat saat bertapa meminta kepada Allah agar pembunuh suaminya, yakni Arya Penangsang mendapatkan hukuman yang setimpal.

"Untuk meminta kepada Allah sang pembunuh kepada suaminya mendapatkan balasan yang setimpal oleh Allah," kata dia.

Dia menjelaskan Ratu Kalinyamat sendiri memiliki silsilah keturunan raja. Ratu Kalinyamat merupakan keturunan dari Raja Demak, Sultan Trenggana. Namun kemudian diperistri Sultan Hadirin dari Jepara.

"Beliau putri Sultan Trenggana Demak yang diperistri Syah Sayib dikenal dengan Sultan Hadirin dan kemudian berdomisili di Jepara. Suaminya menjadi sultan menjadi pemimpin orang berada di Jepara. Kemudian bermukim di Jepara. Dan meninggal dunia di Jepara," papar dia.

"Ketika suami meninggal yang menjadi wakil suaminya adalah Ibu Ratu Kalinyamat," sambungnya.

Pertapaan Ratu Kalinyamat dikenal dengan tapa wuda senjang rambut. Menurutnya tapa wuda memiliki makna sendiri, yang bukan berarti bertapa tanpa mengenakan busana.

"Tapa wuda senjang rambut ya, khususnya Ratu Kalinyamat itu bukan berarti telanjang bulat itu bukan," kata Muchlisin.

"Tapi beliau (Ratu Kalinyamat) wudo dalam arti melepaskan busana keraton. Tetapi memakai pakaian layaknya biasa. Jadi beliau ini ketika semedi tapa di sini tidak memakai pakaian keraton, tetapi memakai pakaian biasa. Maka orang Jawa mengatakan ratu kok tidak memakai busana keraton jadi dianggap wudo. Bukan berarti tanpa busana," papar Muchlisin.

Sementara itu, Kepala Desa Tulakan, Budi Sutrisno, menambahkan petilasan itu menjadi salah satu destinasi wisata religi di wilayahnya. Terutama banyak pengunjung datang ke petilasan tersebut.

"Ini menjadi destinasi religi di desa kami. Mereka datang setiap hari Jumat Wage, biasanya dari luar daerah datang ke sini," kata Budi ditemui di lokasi, Kamis (18/2).

Simak video 'Bertemu Nemo Si Penghuni Dasar Laut Menjangan Kecil Jepara':

[Gambas:Video 20detik]



(rih/rih)