Aria Bima Soal Grha Megawati Rp 90 M di Klaten: Bentuk Penghormatan

Bayu Ardi Isnanto - detikNews
Sabtu, 20 Feb 2021 19:26 WIB
Aria Bima, Solo, Sabtu (20/2/2021).
Aria Bima di Solo. (Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikcom)
Solo -

Gedung pertemuan di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, menjadi polemik karena akan dinamai Grha Megawati dengan nilai Rp 90 miliar. Politisi PDIP Aria Bima menilai pemberian nama tersebut merupakan sebuah penghormatan.

Menurutnya, nama tokoh memang biasa digunakan untuk nama-nama tempat. Hal tersebut juga bisa dilakukan untuk mengedukasi masyarakat.

"Nama tokoh itu kan memang biasa dipakai sebagai jalan, jembatan, pasar, gedung. Kepala daerah dan DPRD mentradisikan sebagai bentuk menghormati berbagai tokoh," ujar Aria Bima saat dijumpai di sela-sela pembagian sembako di Rusunawa Semanggi, Pasar Kliwon, Solo, Sabtu (20/2/2021).

Menurutnya, hal yang menjadi perdebatan justru pada proses pembangunannya yang melibatkan anggaran negara. Dia tidak mempermasalahkan selama prosesnya dilalui sesuai mekanisme.

"Cuma ini kan menyangkut anggaran, layak nggak dengan kepentingan publik. Silakan aja asalkan mekanisme berjalan sesuai aturan. Di situasi pandemi juga harus memperhatikan prioritas," kata Wakil Ketua Komisi 6 DPR RI itu.

Adanya kritikan, kata Aria, adalah hal yang wajar. Selebihnya, rakyat bakal menilai apakah gedung tersebut berfungsi untuk kepentingan publik.

"Kalau nyinyiran, kritikan argumentatif itu bagian dari demokrasi. Biar masyarakat yang menilai," tutupnya.

Diberitakan sebelumnya, Bupati Klaten terpilih, Sri Mulyani mengatakan gedung itu masih belum resmi diberi nama. Dia juga masih meminta izin kepada Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.

"Gedung itu memang Grha yang rencananya kalau memang diperkenankan oleh Ibu Megawati, akan saya namai Grha Megawati. Karena gedung itu memang sangat layak lah kalau dinamai sesosok Ibu Megawati, presiden ke-5 RI agar orang tahu sejarah," jelas Sri Mulyani pada detikcom, Jumat (19/2/2021).

"Anggaran murni dari APBD, tidak ada pihak lain, Grha Megawati ini didanai murni APBD. Rencana peresmian memang tidak sesuai target karena ada pandemi," sambung Sri Mulyani.

Gedung itu, imbuh Sri Mulyani, mestinya tahun 2020 sudah selesai tapi karena ada pandemi dan penanganan COVID akhirnya tahun ini baru disempurnakan lagi. Tahun 2022 rencananya akan diselesaikan.

"Insyaallah kalau ada anggaran longgar tahun depan kami selesaikan semua. Tahun ini baru menyelesaikan masjid dan ruang cateringnya tapi kalau selesai total lengkap ya habisnya sekitar Rp 88 miliar-Rp 90 miliar," jelas Sri Mulyani.

(bai/sip)