BPBD: EWS Lahar Hujan Gunung Merapi di Kali Krasak Rusak

Jauh Hari Wawan S. - detikNews
Rabu, 17 Feb 2021 13:45 WIB
Asap sulfatara mengepul disertai guguran material vulkanik dari puncak gunung Merapi di foto dari Desa kaliurang, Srumbung, Magelang, Jawa Tengah, Rabu (20/1/2021). Pihak Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), melalui situs resminya menyatakan Gunung Merapi sudah mengalami erupsi sejak 4 Januari 2021 berupa erupsi efusif yaitu guguran lava pijar dan awan panas sejauh maksimal 1.800 meter. ANTARA FOTO/Anis Efizudin/foc.
Pemandangan Gunung Merapi difoto dari Desa kaliurang, Srumbung, Magelang, Jawa Tengah, Rabu (20/1/2021). (Foto: ANTARA FOTO/Anis Efizudin)
Sleman -

Satu unit alat early warning system (EWS) yang digunakan untuk memantau lahar hujan Gunung Merapi di Kali Krasak rusak. Saat ini BPBD Sleman berencana memindahkan EWS di lokasi lain untuk mengganti yang rusak.

"Untuk EWS di Kali Boyong ready (tidak rusak), kalau di Kali Krasak cuma ada 1 karena di perbatasan (Magelang) dan rusak karena tertimpa pohon," kata Kasi Mitigasi Bencana BPBD Sleman Joko Lelono saat dihubungi wartawan, Rabu (17/2/2021).

Seperti diketahui saat ini luncuran lava dan awan panas Gunung Merapi mengarah ke sektor barat daya atau ke aliran Kali Krasak dan Boyong.

"Ini (EWS) mau dipasang di Watu Purbo, Tempel, ini diajukan dulu anggaran karena COVID anggaran terbatas sehingga kita minta di BTT (biaya tidak terduga), anggarannya Rp 50 juta untuk bisa memindahkan EWS yang tadinya di Dusun Kembang ke Merdikorejo akan kita pindah," paparnya.

Joko menjelaskan pertimbangan pemindahan EWS ke Watu Purbo karena lokasi itu menjadi salah satu destinasi wisata di Kabupaten Sleman. Sehingga jika ada penambahan aliran, EWS bisa memberikan peringatan juga untuk wisatawan.

"Dipindah di Watu Purbo, sekalian untuk antisipasi karena untuk wisata sehingga untuk berjaga-jaga kalau ada aliran bisa kita berikan peringatan," ungkap Joko.

"Aliran baru di Krasak dan Boyong. Untuk EWS di Krasak ya baru 1 itu dan di Boyong ada 5," pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, aktivitas vulkanik Gunung Merapi masih terus berlangsung. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat dalam 6 jam teramati 9 kali luncuran lava pijar.

"Pada periode pengamatan 6 jam hari ini mulai pukul 00.00 hingga 06.00 WIB, teramati 9 kali guguran lava pijar," kata Kepala BPPTKG Hanik Humaida kepada wartawan, Rabu (17/2).

Hanik menjelaskan arah luncuran lava Gunung Merapi masih dominan ke barat daya. Atau ke hulu Kali Krasak dan Boyong. "Jarak luncur lava pijar maksimum 1.500 meter ke arah barat daya," ungkapnya.

Lebih lanjut, selama 6 jam tercatat kegempaan Gunung Merapi sejumlah 44 kali gempa guguran dan 4 kali gempa fase banyak.

Tonton juga Video: Proses Penutupan Candi Ngawen dari Abu Gunung Merapi

[Gambas:Video 20detik]



(sip/mbr)