Round-Up

Anak Meninggal-Istri Lumpuh Usai Melahirkan, Pria Kendal Polisikan RS

Angling Adhitya Purbaya - detikNews
Rabu, 17 Feb 2021 09:36 WIB
Jevry (24) dan kuasa hukum memberikan keterangan terkait laporan dugaan malapraktik sebuah rumah sakit ke Polda Jateng, Selasa (16/2/2021).
Jevry dan kuasa hukum saat memberikan keterangan. (Foto: Angling AP/detikcom)
Semarang -

Seorang pria asal Singorojo, Kendal, Jateng, mempolisikan rumah sakit di Kota Semarang. Jevry Christian Harsa (24) meminta keadilan karena istrinya lumpuh pasca melahirkan anak pertama yang sehari setelah dilahirkan meninggal dunia.

"Kamis, 28 Mei 2020 sekitar pukul 12.00 WIB pasien atas nama Ningrum Santi menjalani operasi cesar di RS Hermina. Sekitar satu jam kemudian klien kami mendapatkan kabar istrinya mengalami henti jantung. Berdasarkan keterangan klien kami, henti jantung itu disebabkan oleh tindakan penyuntikan yang dilakukan tim dokter," kata Iput Prasetyo Wibowo selaku kuasa hukum Jevry, Selasa (16/2).

Saat itu Jevry juga dipersilahkan melihat kondisi bayi, namun menurutnya saat itu bayi laki-laki tersebut sudah kesulitan bernapas dan membiru. Ibu dan bayi kemudian dibawa ke ruang ICU/NICU. Nahas sangat bayi meninggal dunia sehari kemudian dan ibunya lumpuh sejak pasca melahirkan.

"Selama tidak sadarkan diri, istri klien kami atau pasien mengalami penurunan daya tahan tubuh, tidak mampu menggerakkan tubuh atau lumpuh, penyusutan massa otot, serta perlambatan kemampuan otak. Informasi ini disampaikan oleh dokter," ujarnya.

Setelah lama dirawat, pada 31 Desember 2020, pihak rumah sakit meminta agar Ningrum bisa dirawat di rumah sekaligus untuk mengganti suasana. Iput menjelaskan pihak rumah sakit berjanji akan melakukan kunjungan dua kali seminggu, namun ternyata hanya seminggu sekali. "Sekarang bahkan dua minggu sekali," tegasnya.

Untuk mencari keadilan dan kesembuhan istrinya, mediasi sudah dilakukan namun tidak mencapai titik temu. Jevry dan Iput menjelaskan peristiwa itu berdampak pada perekonomian keluarga karena Jevry yang awalnya bekerja sebagai sopir tidak bisa lagi mencari nafkah karena harus menunggu istri.

"Selama menjalani perawatan di rumah maupun rumah sakit, pihak kuasa hukum sudah melakukan upaya mediasi namun tidak ada titik temu," tegasnya.

"Semenjak istri saya lumpuh, saya tidak bisa bekerja, istri saya juga tidak bekerja. Biaya yang dikeluarkan selama ini sekitar Rp 250 juta. Saya berharap istri saya bisa sembuh," imbuh Jevry bergetar sembari memegang foto istrinya yang terkulai di kasur.

Pengaduan ke Polda Jateng sudah dilakukan sejak bulan Juni 2020. Kasubdit I Ditkrimsus Polda Jawa Tengah Asep Mauludin mengatakan kedua belah pihak sudah dimintai keterangan untuk bekal penyelidikan dan gelar perkara.

"Kita masih penyelidikan, sudah beberapa bulan kan ini. Sudah ada yang kita mintai keterangan. (Pihak rumah sakit dimintai keterangan) Iya sudah. Rangkaian kegiatan penyelidikan baru hasilnya untuk gelar nanti," kata Asep dikonfirmasi wartawan via sambungan telepon.

Sementara itu pihak rumah sakit melalui humas belum merespons saat dimintai konfirmasi baik lewat whatsapp atau panggilan telepon hingga malam hari kemarin. Ketika mencoba konfirmasi ke rumah sakit, ternyata tidak bisa menemui siapapun, hanya berhenti sampai petugas keamanan.

(alg/mbr)