KK Warga Klaten Dicabut Gegara Surat Kematian Palsu, Begini Ceritanya

Achmad Syauqi - detikNews
Kamis, 04 Feb 2021 18:43 WIB
Perangkat desa Jiwan, Klaten menunjukkan surat kematian palsu
Perangkat Desa Jiwan, Klaten menunjukkan surat kematian palsu. (Foto: Acmad Syauqi/detikcom)
Klaten -

Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil) Pemkab Klaten mencabut kartu keluarga (KK) warga di Desa Dengkeng, Kecamatan Wedi. Penyebabnya karena warga itu menyertakan surat kematian yang ternyata palsu.

"Setelah kita selidiki ternyata syarat surat kematiannya palsu. Desa setelah kita klarifikasi tidak pernah menerbitkan surat kematian itu," jelas Plt Kepala Dinas Dukcapil Pemkab Klaten, Sri Winoto kepada detikcom di kantornya, Klaten, Kamis (4/2/2021).

Winoto mengatakan kasus ini terbongkar saat pihaknya menemukan berkas syarat surat kematian yang tidak sesuai prosedur. Setelah dicek, pihaknya juga langsung melakukan klarifikasi kepada yang bersangkutan.

"Pemohonnya saya klarifikasi dan mengakui jika KK tersebut didapat tidak sesuai prosedur. KK yang sudah terbit kita tarik diganti yang baru yang sesuai fakta," terang Sri Winoto.

Sri Winoto mengatakan pemohon KK ini bermula saat pemohon berinisial S itu pisah dengan istrinya namun tak kunjung ada putusan pengadilan. S yang semula tinggal di Jakarta itu lalu pulang ke Klaten.

"Semula pemohon tinggal di Jakarta, sudah pisah dengan istri dan belum ada putusan perceraian. Mungkin pulang ingin pindah KK, jadilah minta tolong oknum perantara inisial C membuat surat kematian fiktif seolah istrinya sudah meninggal," tutur Winoto.

Winoto mengatakan dari pengakuan S, surat kematian palsu dia beli dari seorang perantara. KK itu resmi dikeluarkan Dinas Dukcapil Klaten karena petugas kurang jeli memeriksa berkas.

"Sempat keluar KK sebab petugas dinas hanya menerima kelengkapan berkas dan belum memeriksa detail bentuk surat. Akhirnya ketahuan," ucap Winoto.

Dari kejadian itu, Winoto mengaku telah sudah melakukan pembenahan internal ke petugasnya. Pihaknya juga sudah memberikan sanksi teguran.

"Ya kita pembenahan internal. Ya kita tegur untuk berhati-hati, yang kita tegur tenaga harian lepas (THL)," terang Winoto.

Pihaknya pun mengimbau masyarakat untuk menggunakan jalur sesuai prosedur karena pihaknya telah memberikan berbagai kemudahan. Soal kasus ini, Winoto mengaku masih mengkaji langkah hukumnya.

"Kita sudah memberikan berbagai kemudahan, sekarang kita prioritaskan yang online, manfaatkan itu saja. Itu untuk menghindari percaloan," ucap Winoto.

Terpisah, Kasi Pemerintahan Desa Jiwan, Kecamatan Karangnongko, Andi Prasetyo, mengatakan pemerintah desa sudah dimintai klarifikasi oleh dinas. Pihaknya merasa tidak pernah mengeluarkan surat kematian warga atas nama Rena Yunita.

"Saya diklarifikasi Senin pekan lalu, apa benar membuat surat kematian atas nama Rena Yunita, apakah Rena itu warga sini. Saya jelaskan tidak pernah membuat surat kematian itu, bahkan nama Rena Yunita tidak ada di desa kami, itu fiktif," kata Andi saat ditemui detikcom di kantornya.

Dengan pencabutan KK ini, pihak Dinas Dukcapil menerbitkan KK baru. Dalam KK baru itu status yang bersangkutan masih tertulis beristri.

(ams/sip)