Round-Up

Rangkuman Aktivitas Vulkanik Gunung Merapi Selama Sepekan

Jauh Hari Wawan S - detikNews
Sabtu, 30 Jan 2021 12:24 WIB
Gunung Merapi erupsi, dilihat dari Ngrangkah, Umbulharjo, Cangkringan, Kabupaten Sleman, Rabu (27/1/2021).
Gunung Merapi erupsi, dilihat dari Ngrangkah, Umbulharjo, Cangkringan, Kabupaten Sleman, Rabu (27/1/2021). Foto: Jauh Hari Wawan S/detikcom
Yogyakarta -

Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat luncuran awan panas Gunung Merapi mencapai 52 kali saat erupsi Rabu (27/1) lalu. Status Merapi saat ini masih Siaga.

"Pada periode Rabu (27/1) teramati awan panas sebanyak 52 kali, amplitudo maksimal 77 milimeter, durasi 317.80 detik," kata Kepala BPPTKG Hanik Humaida dalam keterangannya, Kamis (28/1/2021).

Hasil pengamatan BPPTKG, jarak luncur awan panas Merapi terjauh yakni 3,5 kilometer pada Rabu (27/1).

"Hasil foto udara menunjukkan jarak luncur awan panas pada 27 Januari 2021 mencapai 3,5 kilometer untuk jarak miring atau 3,2 kilometer jika dihitung jarak horizontal," jelas Hanik dalam keterangannya, Jumat (29/1/2021).

Hanik menyebutkan, kendati jarak luncuran awan panas melebihi 3 kilometer akan tetapi masih dalam rekomendasi jarak bahaya.

"Jarak luncur awan panas guguran masih dalam rekomendasi jarak bahaya yang telah ditetapkan yaitu pada jarak maksimum 5 kilometer dari puncak Gunung Merapi," ungkapnya.

Hanik menjelaskan saat ini ada perubahan morfologi di area puncak Merapi. Perubahan morfologi itu terlihat dari adanya perubahan volume kubah lava Merapi di sisi barat daya tepatnya di lava 1997.

"Jadi penurunan volume kubah lava karena memang sebagian sudah terlontar pada saat terjadi awan panas kemarin," jelas Hanik.

Berdasarkan catatan BPPTKG pada tanggal 25 Januari, volume kubah lava Merapi mencapai 157 ribu m3. Kemudian, saat diukur pada 28 Januari terjadi penurunan. Hanik menyebut perubahan volume kubah lava disebabkan karena rentetan kejadian awan panas pada hari sebelumnya.

"Pada tanggal 25 Januari 2021 volume kubah lava 2021 terukur sebesar 157.000 m3 . Kemudian pada tanggal 28 Januari 2021 berkurang menjadi 62.000 m3 terutama akibat aktivitas guguran dan awan panas yang terjadi pada tanggal 26 dan 27 Januari 2021," jelasnya.

Berkurangnya volume kubah lava ini, kata Hanik, membuat potensi bahaya juga berkurang. Selain itu, intensitas kejadian awan panas juga menurun.

"Secara umum iya (potensi bahaya berkurang). Namun yang harus diperhatikan kalau ada suplai dari dalam ini yang kita tidak pernah tahu. Tapi sampai saat ini potensi (bahaya) itu lebih kecil, potensi awan panasnya (juga) menurun," kata Hanik.

Ia juga menjelaskan, bahwa saat ini jarak luncuran awan panas masih jauh dari permukiman terdekat dengan puncak Merapi. Hingga saat ini, luncuran awan panas terjauh yakni sejauh 3,5 kilometer yang terjadi pada 27 Januari lalu.

"Jarak luncur awan panas masih jauh dari pemukiman terdekat yakni di jarak 6,5 kilometer," ungkapnya.

Lebih lanjut, kegempaan Merapi pada periode 22-28 Januari 2021 tercatat 71 kali Awan panas guguran (AP), 6 kali gempa Vulkanik Dangkal (VTB), 105 kali gempa Fase Banyak (MP), 1.148 kali gempa Guguran (RF), 122 kali gempa Hembusan (DG) dan 1 kali gempa Tektonik (TT).

"Secara umum kegempaan internal pada minggu ini lebih rendah dibandingkan minggu lalu, sedangkan gempa di permukaan seperti gempa guguran dan awan panas meningkat," sebutnya.

Selanjutnya, rekomendasi BPPTKG...

Selanjutnya
Halaman
1 2