BPBD Jateng Ingatkan Penambangan di KRB 3 Merapi Harus Disetop

Achmad Syauqi - detikNews
Kamis, 28 Jan 2021 17:52 WIB
Plt Kalahar BPBD Jawa Tengah, Safrudin, mengunjungi posko pengungsian Merapi di Desa Tegalmulyo, Kecamatan Kemalang, Klaten, Kamis (28/1/2021).
Plt Kalahar BPBD Jawa Tengah, Safrudin, mengunjungi posko pengungsian Merapi di Desa Tegalmulyo, Kecamatan Kemalang, Klaten, Kamis (28/1/2021). (Foto: Achmad Syauqi/detikcom)
Klaten -

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah (Jateng) mengingatkan penambangan di kawasan rawan bencana (KRB) 3 Gunung Merapi agar dihentikan. BPBD meminta warga untuk tidak melakukan aktivitas penambangan karena sudah terjadi banjir lahar hujan membawa material Merapi.

"Sesuai rekomendasi yang diberikan BPPTKG, semua aktivitas penambangan di KRB 3 untuk dihentikan. Termasuk pendakian dan wisata," jelas Plt Kalak BPBD Provinsi Jateng, Safrudin, saat mengunjungi Balai Desa Tegalmulyo, Kecamatan Kemalang, Klaten, Kamis (28/1/2021).

Menurut Safrudin, saat ini status Gunung Merapi masih Siaga atau Level III. Artinya rekomendasi yang diberikan BPPTKG belum berubah.

"Artinya belum ada perubahan. Aktivitas penambangan di KRB 3 tetap belum boleh dilakukan," jelas Safrudin.

Kedatangannya ke Klaten, lanjut Safrudin, untuk memantau perkembangan terakhir setelah Merapi erupsi cukup besar kemarin. Menurutnya, sejauh ini wilayah Jateng yang berada di KRB Gunung Merapi masih aman.

"Kita dalam rangka memantau sebab ada informasi yang simpang siur, ada hujan abu ada pasir lah. Kita harus tahu di lapangan seperti apa dan tadi malam kita ke Boyolali ternyata masyarakat tidak panik," papar Safrudin.

Safrudin juga menyampaikan pesan dari Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo agar masyarakat tetap waspada ancaman Gunung Merapi dan selalu menaati protokol kesehatan. Karena saat ini masih dalam masa pandemi COVID-19.

"Selalu diimbau untuk mewaspadai ancaman tapi juga menjaga protokol kesehatan. Bencana ini kan bersamaan dengan pandemi," ujar Safrudin.

Sementara itu, Safrudin menyebut saat ini belum ada rencana perluasan daerah yang harus diungsikan meski aktivitas Gunung Merapi terus meningkat. Sebab ancaman luncuran awan panas masih diprakirakan ke barat daya.

"Sekarang ancaman kan ke arah barat daya dan kita terdampak abu vulkanik saja. Di Boyolali juga abu karena arah angin," ujarnya.

Terkait masih ada warga yang enggan mengungsi, Safrudin berharap masyarakat diedukasi dan didengar pendapatnya. Pemerintah tidak boleh menyerah berdiskusi dan mengedukasi.

"Masyarakat perlu diedukasi, kita juga perlu mendengar juga persepsi mereka sebab barangkali masyarakat punya pengalaman sendiri karena saking seringnya menghadapi keadaan," imbuhnya.

Warga ramai-ramai mengambil pasir yang terbawa anjir lahar hujan Gunung Merapi di Sungai Woro, Klaten, Selassa (26/1/2021).Warga ramai-ramai mengambil pasir yang terbawa banjir lahar hujan Gunung Merapi di Sungai Woro, Klaten, Selasa (26/1/2021). (Foto: Achmad Syauqi/detikcom)

Sementara Kabid Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Pemkab Klaten, Susilo Hariyanto, mengatakan BPBD Jateng melakukan pengecekan ke tiga desa di KRB 3 Merapi. Yakni Desa Tegalmulyo, Sidorejo dan Balerante.

"Tadi juga ke Sidorejo dan Balerante langsung dilanjutkan ke Magelang. Tidak sempat mengecek Sungai Woro," kata Susilo.

Plt Camat Kemalang, Sudiyono, menambahkan bahwa pihaknya kesulitan untuk melarang penambangan di Sungai Woro karena menjadi mata pencaharian warga. Meskipun kondisi di lapangan berbahaya jika ada banjir lahar hujan.

"Memang pencari pasir manual itu di Sungai Woro dan berbahaya jika ada lahar dingin. Kita selalu ingatkan dan mendatangi saat mendung atau hujan diminta untuk meninggalkan lokasi, untuk menutup kasihan," kata Sudiyono.

(rih/sip)