Terungkap! Ini Penyebab Penurunan Muka Tanah Pekalongan 6 Cm Per Tahun

Robby Bernardi - detikNews
Jumat, 22 Jan 2021 18:36 WIB
Foto udara wilayah terdampak rob di Kota Pekalongan, Jawa Tengah, Selasa (19/1/2021).
Foto udara wilayah terdampak rob di Kota Pekalongan, Jawa Tengah, Selasa (19/1/2021). Foto: Robby Bernardi/detikcom
Kota Pekalongan -

Badan Geologi mencatat penurunan muka tanah di Kota Pekalongan, Jawa Tengah, dengan penurunan tanah hingga enam sentimeter per tahunnya. Pemkot Pekalongan pun buka suara terkait fenomena penurunan muka tanah di kawasan pantai utara (pantura) tersebut.

Kepala Bappeda Kota Pekalongan, Anita, mengatakan tanah wilayah Kota Pekalongan merupakan jenis tanah endapan yang usianya tergolong masih muda.

"Kota Pekalongan, tanahnya merupakan endapan yang usianya masih muda. Sebetulnya wajar, bila ada penurunan tanah," kata Anita kepada detikcom, Jumat (22/1/2021).

Pihaknya mengaku menaruh perhatian terkait penurunan muka tanah ini dalam waktu lima tahun terakhir. Terutama saat Pekalongan kerap dilanda banjir maupun rob.

"Kita memang sudah bekerja sama dengan Badan Geologi juga, terkait dengan penurunan tanah, yang tadinya kita tidak menyadari kenapa kok rob (banjir) semakin lama semakin masuk ke dalam, terus kenapa banjirnya reda, robnya surut kok masih ada daerah-daerah yang masih tergenang," jelasnya.

"Ternyata setelah sudah ada penelitian, terjadinya penurunan tanah di Kota Pekalongan. Itu antara lain penyebabnya, karena di Pekalongan itu merupakan tanah endapan yang usianya itu tergolong masih muda, dan karena itu, secara alami akan terus mengalami penurunan," imbuhnya.

Anita menyebutkan penurunan muka tanah yang terjadi di wilayah Kota Pekalongan awalnya diperhitungkan satu sampai dua sentimeter per tahun.

"Namun, kenyataannya seperti yang disampaikan Badan Geologi, penurunannya sampai enam sentimeter itu, mungkin akibat aktivitas-aktivitas yang menyebabkan atas penurunan itu," ujarnya.

Aktivitas yang dimaksud Anita adalah pengambilan air tanah, yang menurutnya tidak saja terjadi di Kota Pekalongan.

"Pengambilan air tanah, menyebabkan terjadi lubang di bawah ya, lubang itu kemudian dilakukan pemampatan, lubang tertutup tapi terjadi penurunan tanah, karena dalamnya kosong. Jadi bisa karena itu, bisa juga karena aktivitas-aktivitas ekonomi yang membebani tanah," jelasnya.

"Tapi ini, kita belum bisa menjustifikasi penyebab penurunan tanah itu, ini. Penelitian itu masih terus dilakukan," imbuhnya.

Alat ukur penurunan muka tanah di Kota Pekalongan, Jawa Tengah, Jumat (22/1/2021).Alat ukur penurunan muka tanah di Kota Pekalongan, Jawa Tengah, Jumat (22/1/2021). Foto: Robby Bernardi/detikcom

Namun untuk mengetahui penurunan muka tanah di wilayah Kota Pekalongan, Badan Geologi telah memasang dua patok BM (Benchmark) untuk mendeteksi terjadinya penurunan tanah.

"Ada dua (BM), satu di Stadion Hoegeng, Pekalongan Barat, satunya lagi di Kecamatan Pekalongan selatan," katanya.

Kedua alat tersebut dipasang sejak bulan Maret 2020 lalu. "Di Hoegeng sejak dipasang Maret 2020 hingga 4 Januari 2021, ada penurunan 4,9 sentimeter. Di wilayah Pekalongan Selatan lebih lambat, sekitar 2 sentimeter," ungkap Anita.

Semakin ke utara, lanjutnya, semakin tebal endapanya. Untuk itu, pihaknya akan menambah alat ukur BM di wilayah utara.

"Jadi semakin ke utara (Pekalongan), maka ketebalan elemen semakin tebal. Untuk mengetahui berapa besar dan penyebabnya, perlu dilakukan pendeteksian yang lebih akurat. Untuk itu diperlukan pemasangan alat di beberapa tempat. Nantinya di Pekalongan Utara akan dipasang," ujarnya.

"Makin ke utara, ketebalannya makin tebal (endapan usia muda), lha ini, semakin tebal, kemungkinan turun, tinggi juga," jelasnya.

Selanjutnya, wilayah Kota Pekalongan disebut awalnya bukan dataran...

Selanjutnya
Halaman
1 2 3