Perjalanan Panjang Konflik di Keraton Yogya hingga Pemecatan Adik Sultan

Sukma Indah Permana - detikNews
Rabu, 20 Jan 2021 13:01 WIB
Keraton Yogyakarta
Keraton Yogyakarta. (Foto: dok detikom)

Lama tak terdengar, kini ekses konflik internal Keraton Yogyakarta kembali kembali mencuat berupa pemecatan GBPH Prabukusumo dari jabatan dan tugasnya di dalam keraton. Prabukusumo membenarkan soal surat pemecatan yang beredar, tapi juga menyangsikan isinya.

"Sabar bersabar, kalau saya dengan dhimas Yudho (GBPH Yudhaningrat) dipun jabel kalenggahanipun, artinya itu dipecat. Karena itu saya membuat ini (pernyataan tertulis) agar warga DIY tahu, kalau saya dan dhimas Yudho itu tidak salah," kata Prabukusumo saat dikonfirmasi wartawan, Selasa (19/1/2021).

Keputusan pencopotan itu tersebar melalui aplikasi chat dalam bentuk gambar berisi surat berbahasa Jawa bertuliskan Bab II dengan tulisan di bawahnya terbaca Gusti Kanjeng Ratu Bendara. Surat tersebut dibuat pada 2 Desember 2020, ditandatangani Hamengku Bawono Ka 10 yang isinya mengganti jabatan GBPH Prabukusumo di Kawedanan Hageng Punakawan Nitya Budaya Kraton Yogyakarta sebagai Penggedhe digantikan GKR Bendara.

Berikut isi surat seperti yang dilihat detikcom:

BAB II
GUSTI KANJENG RATU BENDARA
Wakil Penggedhe, kawedanan Hageng Punakawan NITYABUDAYA KARATON NGAYOGYAKARTA HADININGRAT, ingsun kersakake dadi Pengedhe Kawedanan Hageng Punakawan NITYABUDAYA KARATON NGAYOGYAKARTA HADININGRAT

Sabanjure kalungguhane GUSTI BANDARA PANGERAN HARYA Haji PRABUKUMO, S.Psi minangka Penggedhe ana ing Tatarakite Peprintahan Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, ingsun jabel.

Dhawuh Dalem iki wiwit tumindak miturut tanggal nalika ingsun dhawuhake.

Katetepake ing Ngayogyakarta Hadiningrat
Tanggal kaping: 16 Bakdamulud JIMAKIR 1954
Utawi Surya kaping : 2 Desember 2020

HAMENGKU BAWONO KA 10

Terkait surat tersebut, Prabukusumo mengaku menaruh sangsi karena kesalahan penulisan nama dan juga nama Hamengku Bawono Ka 10. Dia mengatakan nama tersebut tidak pernah mengangkatnya.

"Pertama, Kraton Yogyakarta tidak mengenal nama Bawono, artinya surat ini batal demi hukum. Kemudian, nama saya dalam surat juga keliru dan yang mengangkat saya dulu almarhum Bapak Dalem HB IX 8 kawedanan, bebadan dan tepas, diteruskan Hamengku Buwono X," ujarnya.

Prabukusumo mengatakan dirinya sudah memutuskan untuk tidak aktif lagi di Keraton Yogya sejak 6 tahun silam, tepatnya setelah adanya Sabda Raja dari Sri Sultan HB X. Sebab, hal itu bertentangan dengan aturan di Keraton Yogya sehingga Prabukusumo bersama adik-adiknya mundur melayani HB X.

"Artinya, mengapa orang salah tidak mau mengakui kesalahannya, malah memecat yang mempertahankan kebenaran, yaitu kesungguhan pikiran, niat dan hati yang mulia untuk mempertahankan adat istiadat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat sejak HB I hingga HB IX," ucapnya.

Halaman

(sip/mbr)