'Koboi' Penembak Mobil Bos Tekstil di Solo Ajukan Praperadilan

Bayu Ardi Isnanto - detikNews
Selasa, 12 Jan 2021 20:02 WIB
Polisi mengamankan pelaku penembakan mobil yang ditumpangi bos pabrik tekstil di Solo. Pelaku diketahui merupakan adik ipar korban.
Pelaku penembakan mobil bos tekstil di Solo berbaju tahanan (Foto: Bayu Ardi Isnanto/Detikcom)
Solo -

Kasus aksi koboi Lukas Jayadi (72), tersangka penembakan mobil yang ditumpangi pemilik pabrik tekstil di Karanganyar, kembali bergulir. Pihak Lukas kini mengajukan gugatan praperadilan untuk menguji penetapan tersangka hingga pasal pembunuhan yang dijeratkan kepada tersangka.

Kuasa hukum Lukas, Sandy Nayoan menduga ada kejanggalan dalam proses penanganan kasus kliennya tersebut. Pihaknya ingin agar majelis hakim memeriksa kembali tahapan yang dilakukan polisi.

"Seperti diberitakan di media, polisi sudah melakukan olah TKP. Kita ingin tahu siapa saja yang hadir, kita ingin ada keadilan. Kemudian masalah Pasal 53 juncto Pasal 340 KUHP tentang percobaan pembunuhan berencana, juga kita nilai tidak pas," kata Sandy saat dihubungi wartawan, Selasa (12/1/2021).

Dia menyebut Lukas yang merupakan adik ipar korban, I (72), melakukan penembakan karena terdesak. Dia menyebut sopir korban hendak menabraknya saat berada di tempat kejadian perkara (TKP) Jalan Monginsidi, Banjarsari, Solo, Rabu (2/12/2020) lalu.

"Posisi Lukas ini membela diri. Tembakan dilakukan agar mobil berhenti agar tidak menabraknya. Apalagi lokasi kejadian berada di tempat milik Lukas," jelas Sandy.

Menanggapi gugatan praperadilan ini, pihak korban menilai gugatan ini adalah hak setiap warga negara. Namun I melalui kuasa hukumnya, Mohammad Saifuddin, menampik tudingan tersangka.

"Tidak ada upaya menabrak tersangka. Justru posisi mobil itu bergerak mundur, sedangkan pelaku ada di depan mobil," terang Saifuddin saat dihubungi detikcom, hari ini.

"Pelaku jelas melakukan penembakan terarah. Sopir saat itu berusaha menyelamatkan diri karena melihat pelaku membawa pistol," tukas dia.

Selain itu, Saifuddin menilai jeratan pasal percobaan pembunuhan berencana sudah tepat. Sebab pelaku sudah beberapa kali berusaha mengajak korban ke TKP untuk melihat rumah sarang walet.

"Bulan November 2020, tersangka melalui orang lain sudah dua kali mengajak korban mendatangi rumah sarang walet. Tapi korban menolak," kata Saifuddin.

"Sebelum kejadian, tersangka bersama istrinya yang hafal kebiasaan korban, mencegat korban di jalan, alasannya menumpang. Karena tersangka bersama adik kandung korban, korban tidak tega dan memberi tumpangan," sambungnya.

Selengkapnya soal tanggapan korban soal pengajuan gugatan praperadilan tersangka yang merupakan adik iparnya..

Selanjutnya
Halaman
1 2