Saran Pakar UGM ke Risma Agar Kerja Mensos Tak Terlalu Urusan Teknis

Pradito Rida Pertana - detikNews
Jumat, 08 Jan 2021 17:50 WIB
Mensos Tri Rismaharini (Risma) berdialog dengan pemulung di kawasan Pramuka, Jakarta Pusat.
Foto: Risma berdialog dengan pemulung. (Dok: Kemensos)
Yogyakarta -

Pakar politik pemerintah Universitas Gadjah Mada (UGM) Wawan Mas'udi angkat bicara soal aksi Menteri Sosial (Mensos) Tri Rismaharini yang kerap menemui tunawisma. Wawan memberi saran agar Risma tak terlalu mengurusi teknis dan fokus untuk menjalankan tugas sebagai menteri.

"Penyelesaian dan cara untuk menangani masalah gelandangan, tunawisma dan lainnya untuk memberikan bantuan langsung itu tugas dari pemerintah kota, pemerintah daerah dan pemerintah provinsi," kata Wawan lewat keterangan tertulis kepada wartawan, Jumat (8/1/2021).

"Sementara tugas menteri memastikan kebijakan yang berhubungan dengan persoalan sosial dirancang dan diimplementasikan dengan baik," lanjutnya.

Wawan mengatakan aksi Risma menjumpai tunawisma tidak tepat dilakukan oleh menteri. Sebab, urusan teknis seperti itu merupakan kewenangan pemerintah daerah setempat.

"Kalau dari sisi politik pemerintahan aksi blusukan menteri itu tidak tepat," katanya.

Meski begitu, dia memaklumi kegiatan Risma turun ke lapangan itu karena masih terbawa kebiasaannya saat menjadi Wali Kota Surabaya. Mengingat, selama bertugas di Surabaya, Risma kerap blusukan untuk langsung menangani persoalan di lapangan.

"Sebagai menteri sekali waktu blusukan boleh lah, tapi harus jelas tujuannya misal memastikan program nasional terkait jaminan nasional diterima masyarakat atau tidak," ujar Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Fisipol UGM ini.

Wawan pun mengingatkan persoalan tunawisma bukan hanya persoalan di Ibu Kota semata. Dia pun berharap ada kebijakan baru dari Risma untuk mengatasi persoalan ini.

"Kalau dari blusukan menghasilkan kebijakan yang baik itu bagus, tapi kan tidak mungkin menteri blusukan di semua daerah," ujarnya.

Terlepas dari itu, Wawan menyebut aksi Risma ini secara politik bisa dilihat sebagai sindiran menteri untuk pemerintah daerah, dalam hal ini DKI Jakarta.

"Sedangkan dari cara pandang lain dari aksi blusukan ini sebagai bentuk sindiran pemerintah pusat ke daerah. 'Ini loh di daerahmu ada persoalan yang harus diselesaikan'," ucap Wawan.

Sebelumnya, Mensos Risma menegaskan aksinya menemui tunawisma bukanlah blusukan. Risma mengaku hanya lewat dan kebetulan bertemu tunawisma.

"Jadi tadi saya sudah sampaikan, sebetulnya saya tidak blusukan. Saya kebetulan lewat dan ketemu, dan itu yang terjadi," ujar Risma saat ditemui wartawan di Balai Rehabilitasi Sosial Eks Gelandangan dan Pengemis Pangudi Luhur, Bekasi, Jumat (8/1).

Risma juga menampik tudingan bahwa kegiatan yang dia lakukan selama ini adalah settingan. Sebab, menurut Risma, bekerja saja sudah melelahkan.

"Jadi sekali lagi nggak ada saya niatan, capek sekali nyeting-nyeting gitu. Orang kerja aja udah capek, dipake nyeting-nyeting segala. Gitu ya," pungkas Risma.

(ams/rih)