Cabai Rawit Diduga Dicat Beredar di Banyumas, Polisi Turun Tangan

ADVERTISEMENT

Cabai Rawit Diduga Dicat Beredar di Banyumas, Polisi Turun Tangan

Arbi Anugrah - detikNews
Rabu, 30 Des 2020 20:04 WIB
Barang bukti cabai rawit diduga dicat warna merah yang beredar di sejumlah pasar di Kabupaten Banyumas, Rabu (30/12/2020).
Barang bukti cabai rawit diduga dicat warna merah yang beredar di sejumlah pasar di Kabupaten Banyumas, Rabu (30/12/2020). Foto: Arbi Anugrah/detikcom
Banyumas -

Polresta Banyumas, Jawa Tengah, turun tangan menyelidiki temuan cabai rawit yang diduga dicat bukan dengan pewarna makanan. Polisi menyebut cabai bercat merah yang ditemukan di sejumlah pasar di Banyumas itu berasal dari pemasok asal Temanggung.

"Kami juga memperoleh informasi yang sama pada hari Selasa (29/12). Awal mulanya dari Pasar Wage Purwokerto, dari salah satu tengkulak cabai rawit yang sudah dipasarkan ke pedagang pengecer. Ditemukan adanya cabai rawit yang diduga dicampur dengan pewarna yang menurut dari BPOM bukan pewarna makanan, karena harus dilakukan uji lab terlebih dahulu," kata Kanit Tipiter Satreskrim Polresta Banyumas, Iptu Yosua Farin Setiawan, kepada wartawan di Pendopo Sipanji Purwokerto, Banyumas, Rabu (30/12/2020).

Yosua mengaku pihaknya telah melakukan penyelidikan langsung ke Pasar Wage Purwokerto. Kemudian didapatkan informasi jika peredaran cabai diduga dicat juga ditemukan di Pasar Ceremai. Cabai yang diduga dicat itu diketahui juga didatangkan dari salah satu pemasok cabai asal Temanggung.

"Tadi malam kami melakukan penyelidikan dari pukul 00.30-03.30 WIB, ternyata kejadian tersebut tidak terjadi di Pasar Wage saja, tetapi di Pasar Ceremai di salah satu pedagang. Setelah kami kerucutkan dan kami cari informasi di lapangan bahwasanya seluruh barang tersebut diperoleh dari salah satu supplier cabai dari Temanggung," jelasnya.

Saat ini, pihaknya masih melakukan pemeriksaan saksi-saksi serta menunggu hasil laboratorium Loka POM untuk menentukan kandungan pewarna di cabai rawit tersebut.

"Kita masih lakukan penyelidikan dengan pemeriksaan saksi-saksi dan kami menunggu hasil laboratorium dari Loka Pom untuk menentukan ini jenis kandungan pewarna yang digunakan apa," ujarnya.

"Hasil temuan terakhir pada hari Rabu dini hari sudah ada lima kardus, masing masing kardus 30 kilogram. Di setiap kardus kurang lebih hanya sekitar 1-3 kilogram saja sebenarnya yang dicampur dengan pewarna," tambah Yosua.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Banyumas, Sadiyanto, mengatakan pewarna yang terdapat pada cabai tersebut bukan berasal dari pewarna makanan. Maka akan sangat berbahaya bagi manusia yang mengonsumsinya.

"Ini kami belum dapat kejelasan cat atau bukan. Tapi kalau memang diduga sejenis cat yang tidak bisa larut di dalam air, kalau dimakan dan jumlahnya sedikit paling tidak membuat orang menjadi batuk-batuk. Tapi kalau jumlahnya banyak, (terutama) yang suka sambal mungkin, bisa menyebabkan keracunan dan diare," kata Sadiyanto di kesempatan yang sama.

Halaman selanjutnya, awal mula temuan cabai rawit dicat...

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT