DKP Jateng Ungkap Asal Muasal Batu Bara yang Cemari Laut Batang

Angling Adhitya Purbaya - detikNews
Rabu, 23 Des 2020 19:47 WIB
Nelayan di Kabupaten Batang tangkap batu, Selasa (22/12/2020).
Bongkahan batu bara menyangkut di jaring nelayan di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Selasa (22/12/2020). Foto: Robby Bernardi/detikcom
Semarang -

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Jawa Tengah, Fendiawan, angkat bicara soal adanya bongkahan-bongkahan batu bara yang tersangkut jaring nelayan di perairan Kabupaten Batang. Menurutnya, bongkahan batu bara tersebut merupakan ceceran dari kapal tongkang batu bara yang ada di PLTU Batang.

"Informasi dari Polair, tumpahan dari salah satu tongkang yang sedang melaksanakan bongkar di PLTU Ujungnegoro. PLTU sedang melakukan uji coba menghidupkan turbin," kata Fendiawan lewat pesan singkat kepada wartawan, Rabu (23/12/2020).

Bongkahan batu bara tersebut kemungkinan tersebar luas akibat akhir-akhir ini gelombang cukup besar. Fendiawan menyebut pihaknya akan mendata kerugian nelayan yang terdampak.

"Kami sedang melakukan pendataan kerugian yang dialami nelayan. Kami usahakan pemberian jaring ke nelayan di sana," jelasnya.

Terpisah, pegiat lingkungan asal Batang, Nur Rohadi, menyayangkan soal pencemaran batu bara itu karena bisa merusak ekosistem laut. Menurutnya harus ada titik temu antara pihak PLTU dan nelayan untuk membahas dampak lingkungan.

"Amdal terkait dengan laut harus dibedah bersama masyarakat agar dapat solusi terbaik. Jangan sampai nelayan dan lingkungan dikorbankan," kata Nur Rohadi, penerima penghargaan Kalpataru pada 2019 itu.

Diberitakan sebelumnya, sudah lima hari terakhir nelayan di Dusun Roban Timur, Desa Sengon, Kecamatan Subah, Batang, dibuat pusing dari hasil tangkapan di laut. Selain ikan, cumi dan cimpring, para nelayan ini juga menemukan bongkahan-bongkahan batu bara.

"Ya sudah lima hari ini. Resahnya itu, setiap ambil ikan ada batu baranya. Itu batu baranya ya banyak sekali. Menyangkut di jaring saya dan teman lainnya juga," ujar salah seorang nelayan Roban Timur, Yono (56), kepada detikcom di Dusun Roban Timur, Selasa (22/12).

"Yang susah itu jika yang (batu berukuran) kecil-kecil. Menempel di ikan. Kalau (batu) yang besar, enak bisa langsung kita buang," lanjutnya.

Adanya batu bara yang menyebar di lautan Batang, pihak PLTU Batang belum bisa memastikan penyebabnya. Namun pihak PLTU mengakui sebelumnya ada aktivitas pengiriman batu bara namun jumlahnya sangat terbatas.

"Proyek PLTU Batang pada saat ini masih dalam proses pembangunan, di mana aktivitas pengiriman batu bara masih sangat terbatas," Kata GM Community & Government Relations PLTU Batang, Ary Wibowo, Selasa (22/12).

Ary Wibowo juga mengatakan ada aktivitas nelayan dilakukan di zona terlarang atau zona steril. Sebagai objek vital, lanjutnya, kawasan PLTU Batang memiliki lokasi steril yaitu sekitar 2,5 km dari bibir pantai yang digunakan sebagai kawasan pelabuhan khusus.

(rih/ams)