Round-Up

Fakta di Balik 'Raibnya' 5 Hektare Lahan Bak Ditelan Bumi di Pekalongan

Robby Bernardi - detikNews
Sabtu, 19 Des 2020 09:06 WIB
Lahan pertanian di Blok Brandal, Dusun Bodas, Kandangserang, Kabupaten Pekalongan, juga terdampak tanah gerak. Lahan pertanian itu amblas dengan kedalaman sekitar 10-15 meter, panjang 1,5 km dengan lebar amblas hingga 250 meter. Kondisinya saat ini berubah menyerupai aliran sungai.
Lahan pertanian seluas 5 hektare di Kabupaten Pekalongan amblas, raib bak ditelan bumi. (Foto: Robby Bernardi/detikcom)
Kabupaten Pekalongan -

Bencana tanah gerak terjadi di Desa Bodas, Kecamatan Kandangserang, Kabupaten Pekalongan, selama beberapa hari pada awal pekan kemarin. Puncaknya terjadi pada Senin (14/12) yang menyebabkan area seluas puluhan hektare terdampak.

Bencana tanah gerak ini terjadi akibat intensitas hujan yang tinggi dalam kurun waktu sepekan ini. Pemerintah desa setempat mencatat sekitar 100 rumah warga di Dusun Bodas 1, mengalami kerusakan. Bahkan lahan pertanian sekitar 5 hektare di Blok Brandal, amblas hilang bak ditelan bumi.

Pihak Pemerintah Desa Bodas mencatat total terdapat 29,5 hektare di Dusun Bodas 1 terdampak tanah bergerak. Dari 29,5 hektare tersebut, terdiri dari 2, 5 hektare tanah permukiman warga dan 27 hektare lahan pertanian warga. Lahan pertanian seluas 5 hektare di antaranya kini amblas.

Awalnya pergerakan tanah itu hanya membuat retakan di halaman rumah. Namun seperti terus menjalar, retakan itu juga terjadi hingga ke jalan-jalan di perkampungan Bodas 1, hingga masuk ke rumah-rumah warga.

Warga yang cemas terpaksa berjaga semalaman. Hingga akhirnya warga mengetahui lahan pertanian di Blok Brandal lenyap pada Senin (13/12). Lahan seluas sekitar 5 hektare itu amblas seolah hilang dan kini menyiasakan cekungan besar bak jurang memanjang sedalam 10-15 meter.

Selanjutnya, puluhan rumah warga di lokasi itu dilaporkan rusak mulai pada sekitar pukul 10.00 WIB. Kerusakan ini diakibatkan akibat penurunan tanah. Kerusakannya rata-rata berupa lantai yang retak.

Kondisi rumah warga akibat bencana tanah bergerak ini mengalami kerusakan yang beragram. Namun, rata-rata permukaan rumah warga mengalami penurunan hingga membuat lantai retak-retak. Ada juga rumah yang miring akibat tanahnya turun. Demikian juga dengan tanah di permukiman yang retak-retak.

Menurut Kepala Desa Bodas, Wasgito, 100 rumah yang terdampak dihuni oleh 407 jiwa. Bencana tanah gerak ini, tidak kali ini saja terjadi. Setidaknya sudah tiga kali terjadi, yakni tahun 2005, 2012 dan 2020.

"Bencana tanah gerak, sudah tiga kali ini. Tahun 2005, 2012 dan tahun ini 2020. Di tahun 2005, sebanyak 18 rumah direlokasi. Dari lokasi bawah sampai ke atas, yang saat ini terjadi tanah gerak," jelas Wasgito.

Namun demikian, pihaknya terus mengantisipasi adanya tanah bergerak susulan dengan menyiapkan tiga titik tempat pengungsian, yakni Balai Desa Bodas, Masjid Bodas dan sebuah gedung sekolah dasar setempat.

Dari hasil kajian sementara Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Tengah Wilayah Serayu Utara menunjukkan bencana tanah gerak di lokasi tersebut akibat curah hujan yang tinggi sehingga gaya pendorong lebih besar dari gaya penahannya. Pihak ESDM meyarankan agar retakan tanah di desa setempat untuk segera ditutup.

Tonton video 'Ngeri Tanah Bergerak di Pekalongan: Ubin Pecah, 5 Ha Lahan Amblas':

[Gambas:Video 20detik]



Berikutnya, hasil kajian sementara mengungkap dugaan penyebab bencana ini...