Kaleidoskop 2020

Ngerinya Teror Semut di Banyumas Sejak 2017, Ular Pun Dibuat Tak Berkutik

Tim detikcom - detikNews
Sabtu, 12 Des 2020 12:43 WIB
Petugas mengerahkan water cannon untuk meredam teror semut di Desa Pageraji, Banyumas
Petugas mengerahkan water cannon untuk meredam teror semut di Desa Pageraji, Banyumas, November 2020. Foto: Arbi Anugrah/detikcom
Banyumas -

Teror miliaran semut di Desa Pageraji, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, ternyata belum berakhir. Padahal semut berjenis Tapinoma sessile atau lebih dikenal dengan nama semut Bau tersebut disemprot pestisida hingga mengerahkan water cannon.

"Ya masih banyak, paling jumlah yang mati 5 persen setelah penyemprotan massal itu. Di pohon-pohon masih utuh masih seperti semula, masih bertelur, tidak ada pengurangan sedikit pun," kata salah satu warga Desa Pageraji, Hidayat, kepada detikcom, Sabtu (5/12/2020).

Dia mengatakan bahwa warga selalu rutin melakukan penyemprotan sekitar tiga hari sekali menggunakan pestisida yang diberikan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Namun jika setelah tiga hari tidak dilakukan penyemprotan, semut tersebut kembali muncul dan masuk ke rumah-rumah warga.

"Untuk di rumah-rumah setelah penyemprotan untuk satu dua hari aman, nanti datang lagi, kita semprot lagi. Ya untuk yang di rumah (aman) tapi untuk yang di kebun kebun masih utuh, masih seperti semula belum ada perubahan. Cuma yang di rumah-rumah setelah habis disemprot 2-3 hari aman. Tapi setelah 3 hari harus disemprot lagi kalau tidak nanti datang lagi nyerang terus," jelasnya.

Biasanya, lanjutnya, warga datang ke BPBD Banyumas untuk mengambil dua jenis obat pembasmi serangga yang disatukan menjadi 6-10 paket. Tapi itu pun dianggapnya masih kurang cukup untuk menyemprot ke rumah warga yang terdampak teror semut hampir 40 rumah.

"Mungkin karena BPBD sibuk dengan COVID-19, sibuk dengan bencana-bencana yang lain, jadi mungkin akhirnya warga sendiri yang menangani. Cuma kita tetap dapat suplai obat (pestisida) dari BPBD, cuma belum berkurang secara signifikan," ujarnya.

"Usul kita, BPBD menambah jumlah obatnya, kita kadang datang ke sana dikasih 6 sampai 10 paket, padahal banyak banget (semutnya). Kalau sekedar 6 atau 10 hanya cukup untuk beberapa rumah, ini hampir 3 mingguan dari penyemprotan massal itu, padahal prediksi bupati 1 bulan selesai," lanjutnya.

Warga Banyumas diteror semut, pohon hingga rumah diserbu. Semut ini diketahui agresif dan saat menggigit meninggalkan rasa pedih dan gatal.Warga Banyumas diteror semut, pohon hingga rumah diserbu. Semut ini diketahui agresif dan saat menggigit meninggalkan rasa pedih dan gatal. Foto: Arbi Anugrah/detikcom

Dia berharap jika wabah semut yang meneror warga RT 3 RW 3 Desa Pageraji segera selesai. Sehingga warga dapat beraktivitas seperti biasanya.

"Keinginannya ya wabah semut ini segera tuntas, setidaknya bisa dikendalikan tidak mengganggu warga, tidak mengganggu para petani, penderes," ucapnya.

Warga menceritakan tim ahli sudah bolak-balik ke lokasi untuk mengatasi teror semut Tapinoma sessile itu namun belum membuahkan hasil.

Hidayat mengatakan tim dari Laboratorium Entomologi dan Parasitologi, Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto terus melakukan upaya untuk dapat mengendalikan teror semut tersebut.

"Dari Unsoed sudah bolak-balik datang ke sini, bisa dibilang lebih dari lima kali, uji coba-uji coba terus, bawa sampel semutnya, bawa obat-obatnya, sama medianya baik itu gel, dan lain-lain, mungkin sampai delapan jenis (media umpan). Tapi kenyataannya belum berhasil, itu uji coba yang model dikasih umpan, tapi belum berhasil," kata Hidayat kepada detikcom, Sabtu (5/12/2020).

Menurutnya, tim dari Unsoed itu juga bekerja sama dengan salah satu perusahaan pengendali hama untuk membuat umpan yang sudah diberikan obat pembasmi hama yang tidak bisa tercium oleh semut sekalipun. Namun hingga saat ini belum berhasil.

"Ada perusahaan yang kerja sama dengan Unsoed sudah menggunakan metode yang menggunakan media roti, menggunakan pakan ikan pelet, belatung, terus (membuat) 5 jenis gel, jadi ramuan obat yang sudah dibuat gel. Berati sudah sekitar 8 umpan yang sudah diuji coba di sini. Hasilnya masih nol, padahal umpannya dikasih langsung ke sarangnya," jelasnya.

Hidayat mengungkapkan, saat uji coba itu, semut-semut sempat agresif. Namun setelah beberapa menit, pakan umpan itu langsung ditinggalkan begitu saja hingga berhari-hari. Berbeda saat umpan yang tidak diberikan obat pembasmi hama, langsung habis dimakan semut tersebut.

"Pas dikasih pakan roti itu agresif sebentar, beberapa menit berikutnya ditinggal pergi. Dikasih gel sama belatung ya sama, dicuekin utuh sampai beberapa hari masih utuh terus. Jadi kayak ngerti umpan makanan itu sudah dikasih obat, padahal itu obat pembasmi serangga, yang serangga sendiri tidak bisa mencium baunya. Jadi alternatif untuk kita saat ini ya penyemprotan," tuturnya.

Tonton video 'Water Cannon Diterjunkan Basmi Teror Miliaran Semut di Banyumas!'

[Gambas:Video 20detik]

Selanjutnya, teror semut sejak tahun 2017 hingga ular pun dibuat tak berkutik...

Selanjutnya
Halaman
1 2 3 4