Kaleidoskop 2020

Ngerinya Teror Semut di Banyumas Sejak 2017, Ular Pun Dibuat Tak Berkutik

Tim detikcom - detikNews
Sabtu, 12 Des 2020 12:43 WIB
Petugas mengerahkan water cannon untuk meredam teror semut di Desa Pageraji, Banyumas
Petugas mengerahkan water cannon untuk meredam teror semut di Desa Pageraji, Banyumas, November 2020. Foto: Arbi Anugrah/detikcom

Selain itu, para ahli juga turut meneliti jenis semut yang meneror Desa Pageraji tersebut.

"Setelah identifikasi di laboratorium, dugaan kami itu adalah jenis Tapinoma sessile atau lebih dikenal dengan nama 'semut bau'. Karena dia memang setelah kami pencet pun ternyata memang ada bau, ini memang sebenarnya jenis yang biasa saja dan tidak seganas semut api," kata Kepala Laboratorium Entomologi dan Parasitologi Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Trisnowati Budi Ambarningrum, saat dihubungi detikcom, Rabu (18/11/2020).

Dia mengatakan jenis semut ini banyak bersarang di tanah dan hidup berkoloni dengan lebih dari satu ratu. Trisnowati mengatakan teror semut di Desa Pageraji diduga karena populasinya sudah cukup tinggi ditambah lingkungan sekitar yang mendukung perkembangbiakan semut-semut tersebut.

"Sebenarnya ini semut rumahan, cuma populasinya tinggi, karena memang lingkungannya di sana lembap banget, hawanya juga dingin, jadi dia suka," jelasnya.

Sementara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyumas terus menyuplai pestisida untuk pengendalian semut jenis Tapinoma sessile atau semut Bau tersebut.

"Masih dapat bantuan pestisida, kemarin terakhir, hari Jumat kemarin saya kirim lagi. Tapi sudah agak mendingan itu yang di musala juga sudah tidak ada, di pohon-pohon memang yang masih, tapi di sumbernya memang sudah kita habisi waktu itu ya," kata Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Banyumas Titik Puji Astuti saat dihubungi detikcom, Sabtu (5/12/2020).

Titik mengatakan setelah penyemprotan massal pada sumber berkembang biak semut di sebuah pabrik gergajian kayu yang ada di desa tersebut, pihaknya juga melakukan penyemprotan secara maraton. Namun kemudian fokus BPBD terpecah karena banyaknya bencana yang terjadi di Kabupaten Banyumas, sehingga warga akhirnya berinisiatif untuk mengambil sendiri pestisida di BPBD.

"Setelah itu kita maraton, setelah penyemprotan awal, kita berturut-turut berapa hari disemprot. Kemudian setelah itu kita banyak banget bencana, akhirnya warga ya udah kasihan ke BPBD, jadi minta pestisidanya saja. Sehingga beberapa kali sudah kita kirim, cuma saya belum ngecek lagi, kayaknya sudah tidak ada keluhan, kalau ada keluhan biasanya hubungi saya," jelasnya.

Saat disinggung terkait masih adanya semut-semut di sekitar rumah warga yang hanya berselang sekitar tiga hari setelah penyemprotan, Titik mengatakan akan mencari kembali sumber atau sarang semut tersebut untuk dilakukan penyemprotan kembali.

"Berati sumbernya ya, nanti kalau kita sudah agak longgar, sumbernya kami semprot lagi saja. Nanti sumbernya kita cari lagi, pemberian pestisida masih terus berjalan," ucapnya.

Selain itu, pihaknya juga akan menambah jumlah pestisida yang akan disuplai ke warga. Jika jumlah selama ini sebanyak 6-10 paket masih dirasa kurang.

"Kalau memang masih kurang, kepala desa membuat surat permohonan tertulis saja ke BPBD," imbuhnya.

Selanjutnya, teror semut juga berdampak ke penderes...