Pandemi Corona, Nitilaku Dies Natalis UGM 2020 Digelar Virtual

Pradito Rida Pertana - detikNews
Jumat, 11 Des 2020 16:39 WIB
Jumpa pers Nitilaku Dies Natalis UGM 2020, Jumat (11/12/2020).
Jumpa pers Nitilaku Dies Natalis UGM 2020, Jumat (11/12/2020). (Foto: dok Humas UGM)
Yogyakarta -

Pawai Budaya Nitilaku telah menjadi bagian dari tradisi peringatan Dies Natalis Universitas Gadjah Mada (UGM) dari tahun ke tahun. Menyambut puncak peringatan Dies Natalis ke-71 UGM pada tahun ini, Nitilaku akan diselenggarakan secara virtual karena pandemi virus Corona atau COVID-19.

"Acara kali ini sedikit berbeda tetapi tanpa menghilangkan maknanya. Saya senang teman-teman alumni banyak terlibat dalam acara ini," kata Ketua Umum Pengurus Pusat Keluarga Alumni Gadjah Mada (Kagama), Ganjar Pranowo, saat jumpa pers secara daring, Jumat (11/12/2020).

Nitilaku merupakan pawai budaya dari Keraton Yogyakarta menuju Gedung Pusat UGM, sebagai simbolisasi perjalanan sejarah UGM yang pada awal kelahirannya bertempat di Kraton Yogyakarta hingga kemudian berpindah ke Bulaksumur.

"Kegiatan Nitilaku 2020 sendiri akan diselenggarakan pada hari Minggu (13/12/2020), mulai pukul 07.00 WIB melalui kanal YouTube serta Zoom," ucapnya.

Perlu diketahui, di tahun-tahun sebelumnya, Nitilaku dimeriahkan oleh berbagai pertunjukan seni budaya di sejumlah panggung yang didirikan di sepanjang jalan menuju Balairung UGM, dan diikuti oleh ribuan peserta dari kalangan sivitas UGM, alumni, maupun masyarakat umum.

Ketua Panitia Nitilaku 2020, Iqbal Tuwasikal mengatakan, untuk tahun ini baik pawai, pertunjukan seni budaya, dan interaksi antarpeserta akan dilakukan secara virtual. Kagama di berbagai daerah akan terlibat dalam Nitilaku melalui video yang akan ditampilkan pada rangkaian pawai virtual.

"Jika biasanya pataka dibawa dari Keraton menuju Balairung, kali ini pataka berkeliling ke seluruh Nusantara, ini simbolisasi dari inisiatif berdirinya UGM dari para pendiri bangsa yang ingin memajukan SDM seluruh Indonesia agar bisa bersaing membangun bangsa yang baru seumur jagung," kata Iqbal.

Tantangan penyelenggaraan Nitilaku secara virtual, kata Iqbal, adalah dalam menyiapkan konsep serta konten dari pawai virtual agar tetap menarik untuk diikuti. Untuk itu, sejumlah seniman pun dilibatkan untuk merancang dan menyiapkan set digital.

"Konten-konten ini sudah mulai disiapkan, tentunya dengan tetap menerapkan protokol kesehatan yang ketat," ujar Iqbal.

Meski diselenggarakan dengan konsep yang berbeda, Nitilaku 2020 dirancang untuk tetap dapat menghadirkan bentuk sinergi 5K, yaitu Kampus, Keraton, Kampung, Komunitas, dan Korporasi dalam kerangka kebinekaan.

Sinergi 5K akan hadir sebagai elemen acara Nitilaku, tidak semata-mata sebagai bentuk nostalgia, namun agar setiap peserta dapat mengambil inspirasi dari sinergi tersebut sebagai modal sosial yang tangguh untuk menghadapi berbagai tantangan di masa kini dan masa depan, terutama tantangan dalam menghadapi pandemi COVID-19.

(rih/sip)