Cerita Sultan, Diam-diam Buntuti Pengungsi dari Barak ke Lereng Merapi

Pradito Rida Pertana - detikNews
Senin, 07 Des 2020 15:52 WIB
Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X di kantor BPPTKG, Kota Yogyakarta, Senin (7/12/2020).
Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X di kantor BPPTKG, Kota Yogyakarta, Senin (7/12/2020). (Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom)
Yogyakarta -

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X menegaskan bahwa tidak bisa dipastikan kapan Gunung Merapi yang saat ini berstatus Siaga (Levelk III) erupsi. Sultan pun berharap para pengungsi sabar tinggal di barak. Selain itu, Sultan juga mengenang kegiatan pengungsi saat Merapi erupsi tahun 2004 dan 2010.

"Ya memang kita juga tidak tahu ya (kapan Gunung Merapi erupsi), tapi saya kira kalau ibu-ibu suruh sabar bisa. Bapak-bapaknya yang tidak sabar karena dia mesti ke atas, kecuali sapi dan sebagainya memang sudah ada di bawah," kata Sultan saat ditemui wartawan di kantor Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), Kecamatan Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Senin (7/12/2020).

Sultan menceritakan, bahwa hal serupa terjadi pada tahun 2004. Di mana pihaknya terkendala saat membawa sapi ke barak pengungsian.

"Hanya problemnya kita ngumpulkan sapi di tahun 2004, pada waktu saat masih ke barat jatuhnya itu ngumpulkan sapi sama ngumpulkan orang biayanya lebih mahal sapinya dengan orangnya," ujarnya.

"Tapi persoalan bukan di situ, bagaimana persoalannya bapak-bapak ini karena punya rumah dia harus bersih-bersih, tilik omah (menjenguk rumah) dan sebagainya. Itu sebetulnya sudah dari dulu, (pengungsi) naik turun seperti itu yang terjadi. Hanya kalau sudah (berstatus) Awas (Level IV) itu lain," imbuh Sultan.

Sultan kembali bercerita bahwa hal serupa juga terjadi pada tahun 2010. Di mana banyak pengungsi yang kembali ke tempat tinggalnya saat pagi dan kembali ke pengungsian pada sore harinya.

"Tahun 2010 kalau sudah meletus pagi-pagi saya coba di Stadion Maguwo (Maguwoharjo, Sleman), saya jam setengah 4 (pagi) pakai mobil saya tunggu di sana kalau pagi pada ngapa ya yang pada pulang, ternyata menarik juga," ucapnya.

"Jadi 2010 itu saya tungguin itu dia jam setengah 4 (pagi) itu sudah markir motor yang mau ke atas. Tapi boncengannya tidak mboncengke anak e, tapi bagian makan," imbuhnya.

Kala itu, Sultan mengikuti warga yang kembali ke rumahnya di lereng Gunung Merapi. Ternyata warga membawa jatah makanannya untuk diberikan ke hewan ternak.

"Jadi dia (pengungsi) itu ke atas, itu keluarganya yang ambil makan pagi, dia pulang kembali baru sore, makan siang istri anaknya yang ambil dan baru makan malam itu dia makan," ucapnya.

"Pagi-pagi untuk ngasih bebeknya ngasih ayamnya di rumah, dia bawa makan pagi makan siang yang kemarin itu dibawa ke atas. Saya ikuti pakai sepeda motor di sana, itu ditebar ke hewan ternaknya, itu jatah (makan) pagi sore dan siang, jadi dia ke sana setiap pagi pulang sore di sana itu kerja," lanjutnya.

Sehingga, Sultan menilai bahwa menjadi perkara sulit untuk memaksa pengungsi menetap sepanjang hari di lokasi pengungsian.

"Jadi ya memang tidak mudah ya, dia punya akses seperti itu dan harus dia tinggalkan tanpa nganu (hewan ternak) agak susah. Dan itu yang menjadi dasar dia sulit stay di tempat itu," kata Sultan.

(rih/sip)