Kapan Merapi Akan Meletus? Ini Analisis Mbah Rono

Jauh Hari Wawan S - detikNews
Rabu, 02 Des 2020 20:42 WIB
Gunung Merapi mengeluarkan asap sulfatara terlihat jelas dari kota Yogyakarta, Jumat (27/11/2020). Berdasarkan pantauan aktivitas kegempaan Merapi tercatat sejak pukul 00.00 - 06.00 tercatat gempa guguran sebanyak 15 kali, gempa hembusan sebanyak 22 kali, gempa fase banyak 109 kali dan gempa vulkanik dangkal sebanyak 6 kali. 
Kepala Kepala BPPTKG Hanik Humaida menyampaikan kepulan asap di Merapi merupakan hal yang sangat wajar. 
Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menyebut Emisi asap gunung api merupakan hal yang sangat wajar, kebetulan cuaca cerah sehingga bisa terlihat dari kota Yogyakarta 
Asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas tebal.
Gunung Merapi mengeluarkan asap sulfatara terlihat jelas dari kota Yogyakarta, Jumat (27/11/2020). Foto: PIUS ERLANGGA
Sleman -

Status Gunung Merapi yang berada di perbatasan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Siaga. Peneliti vulkanologi Surono atau yang akrab disapa Mbah Rono memprediksi Merapi belum akan erupsi dalam waktu dekat. Seperti apa analisisnya?

"Sudah saya sampaikan tidak dalam waktu dekat ini (Merapi meletus). Gunung meletus bukan hanya karena gempanya banyak kemudian meletus nggak seperti itu," kata Mbah Rono saat dihubungi wartawan, Rabu (2/12/2020).

Mantan Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) itu menyebut Gunung Merapi sudah berubah jika dibandingkan pada 2010 lalu. Menurutnya, berdasarkan data kegempaan Merapi saat ini cenderung fluktuatif.

"Kalau selama ini Merapi gempanya banyak kemudian guguran dan hembusan banyak ya nggak nimbun-nimbun," jelasnya.

"Misalnya (gempa) guguran sedikit, sebentar kemudian gempa vulkanik dangkal naik, lalu gempa hembusan dan fase banyaknya turun dan meningkat lagi hembusannya dan gugurannya ya tidak rampung-rampung," sambung Mbah Rono.

Menurut analisisnya, kemungkinan erupsi Gunung Merapi bisa terjadi jika gempa guguran dan hembusannya sedikit.

"Kecuali tiba-tiba gugurannya kaya berhenti sedikit, hembusannya sedikit, tapi gempanya vulkanik dangkal naik, fase banyaknya naik mungkin bledos (erupsi)," sebutnya.

Mbah Rono menyebut tidak perlu muncul kubah lava terlebih dahulu untuk erupsi. Sebab, yang menentukan erupsi adalah tekanan energi dari dalam gunung.

"Nggak harus (ada kubah lava). Kita lihat saja apakah memang kuat. Kegempaan yang ada itu kan mengumpulkan enegi kalau dia gagal mengumpulkan energi ya kapan akan meletus," jelas Mbah Rono.

"Meletus kan gampang tekanan di dalam lebih kuat dari tekanan di luar," tambahnya.

Melihat aktivitas tersebut, Mbah Rono meyakini jika status Merapi Siaga akan berlangsung panjang.

"Kayaknya lama. Mungkin kalau berharap meletus dalam waktu dekat ini kayaknya belum. Selama polanya seperti ini naik fase banyaknya, hembusan naik nanti turun lagi tapi diimbangi hembusan dan guguran ya ngono wae (begitu saja)," ucapnya.

Untuk itu, dia berpesan agar masyarakat tetap waspada dan tetap mematuhi rekomendasi yang diberikan oleh Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG).

"Ya ikuti rekomendasi BPPTKG. Adanya suatu rekomendasi ya diikuti. Masyarakat di sekitar Merapi manut-manut. Disuruh ngungsi ya ngungsi," pungkasnya.

(ams/mbr)