Kegempaan Merapi November 2-5 Kali Lebih Tinggi Dibanding Oktober

Jauh Hari Wawan S - detikNews
Senin, 30 Nov 2020 20:19 WIB
Gunung Merapi mengeluarkan asap sulfatara terlihat jelas dari kota Yogyakarta, Jumat (27/11/2020). Berdasarkan pantauan aktivitas kegempaan Merapi tercatat sejak pukul 00.00 - 06.00 tercatat gempa guguran sebanyak 15 kali, gempa hembusan sebanyak 22 kali, gempa fase banyak 109 kali dan gempa vulkanik dangkal sebanyak 6 kali. 
Kepala Kepala BPPTKG Hanik Humaida menyampaikan kepulan asap di Merapi merupakan hal yang sangat wajar. 
Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menyebut Emisi asap gunung api merupakan hal yang sangat wajar, kebetulan cuaca cerah sehingga bisa terlihat dari kota Yogyakarta 
Asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas tebal.
Gunung Merapi mengeluarkan asap sulfatara terlihat jelas dari kota Yogyakarta, Jumat (27/11/2020). Foto: PIUS ERLANGGA/detikcom
Yogyakarta -

Aktivitas Gunung Merapi di perbatasan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) terus meningkat. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat rata-rata ada 400 gempa internal di Merapi.

Kepala BPPTKG Hanik Humaida menjelaskan kegempaan di Merapi bulan November jauh lebih tinggi dibandingkan bulan Oktober.

Berdasarkan data BPPTKG, dalam bulan ini kegempaan Merapi tercatat 1.069 kali gempa vulkanik dangkal (VTB), 9.201 kali gempa fase banyak (MP), 29 kali gempa low frequency (LF), 1.687 kali gempa guguran (RF), 1.783 kali gempa hembusan (DG) dan 39 kali gempa tektonik (TT).

"Intensitas kegempaan pada bulan ini (November) 2-5 kali lebih tinggi dibandingkan bulan Oktober yang lalu," kata Hanik dikutip dalam keterangan resmi BPPTKG, Senin (30/11/2020).

Hanik menjelaskan selama periode November ini guguran teramati dari Pos Pengamatan Gunung Merapi (PGM) Babadan, Magelang.

"Teramati guguran dengan jarak luncur maksimal sejauh 3 km di sektor barat ke arah hulu Kali Sat pada tanggal 8 November pukul 12.57 WIB," jelasnya.

Lebih lanjut, Hanik membeberkan analisis morfologi area puncak berdasarkan foto dari sektor tenggara pada bulan ini. Hasilnya, ada perubahan morfologi sekitar puncak yaitu runtuhnya sebagian kubah Lava1954.

"Sedangkan berdasarkan analisis foto drone tanggal 16 November 2020, teramati adanya perubahan morfologi dinding kawah akibat runtuhnya lava lama, terutama Lava1997 (selatan), Lava1998, Lava1888 (barat) dan Lava1954 (utara), selain itu belum teramati kubah lava baru," paparnya.

Pihaknya juga melakukan pemantauan gas dari stasiun VOGAMOS (Volcanic Gas Monitoring System) di Lava1953 menunjukkan nilai gas CO2 (ppm) dengan interval waktu setiap kurang lebih 3 jam untuk pengambilan data. Ia menjelaskan, selama awal bulan ini hingga tanggal 20 November konsentrasi CO2 menunjukkan nilai yang cukup konstan, yaitu rata-rata 525 ppm. Namun selanjutnya mengalami peningkatan.

"Setelah periode tersebut hingga akhir bulan ini menunjukkan peningkatan hingga nilai maksimal sebesar 675 ppm," jelasnya.

Sementara untuk deformasi Merapi, Hanik menjelaskan laju pemendekan yang dipantau dengan menggunakan electronic distance measurement (EDM) pada bulan ini sebesar 11 cm per hari.

Pemantauan aktivitas Merapi juga dengan memantau visual secara langsung. Ia menjelaskan pada periode November terpantau asap putih tebal keluar dari puncak Merapi.

"Asap berwarna putih, ketebalan tipis hingga tebal dengan tekanan lemah hingga sedang. Tinggi asap maksimum 750 m teramati dari PGM Babadan pada 26 November 2020 jam 05.50 WIB," sebutnya.

Berdasarkan data tersebut, Hanik menyimpulkan terdapat peningkatan aktivitas vulkanik Merapi. Data pemantauan itu, lanjutnya, menunjukkan proses desakan magma menuju permukaan.

"Ada peningkatan aktivitas vulkanik Merapi berupa aktivitas kegempaan internal yang mencapai 400 kali per hari, laju deformasi mencapai 11 cm per hari, konsentrasi gas CO2 yang meningkat menjadi 675 ppm, serta perubahan morfologi puncak akibat intensifnya aktivitas guguran," ucapnya.

Hanik menjelaskan, berdasarkan tingginya data pemantauan itu, status aktivitas ditetapkan dalam tingkat aktivitas Siaga (Level III). Potensi bahaya saat ini berupa guguran lava, lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dan awan panas sejauh maksimal 5 kilometer.

(rih/ams)