BPPTKG Pantau Gunung Merapi dari Udara, Bagaimana Hasilnya?

Jauh Hari Wawan S - detikNews
Kamis, 26 Nov 2020 18:47 WIB
Gunung Merapi dari Desa Tlogolele, Kecamatan Selo, Boyolali, November 2020.
Gunung Merapi dari Desa Tlogolele, Kecamatan Selo, Boyolali, November 2020. (Foto: Ragil Ajiyanto/detikcom)


Sementara itu, dari data pemantauan aktivitas vulkanik Merapi dari tanggal 23-25 November, laju deformasi Merapi masih di angka 11cm per hari. Memang lebih rendah jika dibanding laju deformasi tanggal 22 November 2020 yaitu 12 cm per hari.

"Laju rata-rata deformasi tanggal 23-25 November diukur dari electronic distance measurement (EDM) Babadan sebesar 11 cm per hari," jelasnya.

Berdasarkan data pemantauan BPPTKG, pada 23 November 2020 terpantau suara guguran sebanyak 9 kali. Suara guguran (lemah-sedang) terdengar dari Babadan dan Kaliurang. Sementara untuk kegempaan tercatat, 33 kali gempa guguran, 399 kali gempa fase banyak, 37 kali gempa vulkanik dangkal, 3 kali gempa tektonik, dan 83 gempa hembusan.

Kemudian tanggal 24 November 2020, suara guguran terdengar 10 kali (lemah-keras) terdengar dari Pos Babadan. Kondisi kegempaan tercatat ada 45 kali gempa guguran, 404 kali gempa fase banyak, 47 kali gempa vulkanik dangkal, 1 gempa tektonik, dan 45 gempa hembusan.

Selanjutnya, tanggal 25 November 2020, suara guguran terdengar 8 kali (sedang-keras) terdengar dari Babadan dan Jrakah. Gempa tercatat ada 50 kali gempa guguran, 324 kali gempa fase banyak, 41 kali gempa vulkanik dangkal, 2 gempa tektonik, dan 73 gempa hembusan.

"Kalau berdasarkan gempa yang terjadi saat ini, aktivitas magma berada di kedalaman 1,5 kilometer dari puncak," sebutnya.

Hanik pun mengimbau masyarakat tetap tenang meski Gunung Merapi berstatus Siaga. Hanik menyebut saat ini aktivitas Gunung Merapi cenderung stabil.

"Jadi masyarakat mohon untuk tetap tenang dan sabar karena memang ini Merapi saat ini mengalami tingkat aktivitas yang tinggi tetapi cukup lama. Jadi artinya aktivitas stabil tinggi,"

Halaman

(ams/ams)