Round-Up

Kisah Nenek di Banyumas Serahkan Naskah Kuno Ratusan Tahun ke Pemkab

Arbi Anugrah - detikNews
Kamis, 26 Nov 2020 11:12 WIB
Sejumlah benda-benda pusaka kuno diserahkan oleh seorang nenek Rasiti (69) kepada Pemkab Banyumas. Ini penampakan benda pusaka tersebut.
Naskah kuno yang diserahkan nenek Rasiti ke Pemkab Banyumas. (Foto: Arbi Anugrah/detikcom)
Banyumas -

Seorang nenek bernama Rasitu (69) menghibahkan sejumlah benda kuno kepada Pemkab Banyumas. Benda-benda kuno itu terdiri dari naskah kuno hingga tombak dan keris.

Pantauan di Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah (Dinas Arpusda) Kabupaten Banyumas, Rabu (25/11), ada 11 benda pusaka yang diserahkan Rasiti yang merupakan warga Desa Karangkemiri, Kecamatan Karanglewas. Benda-benda pusaka itu terdiri dari dua naskah kuno yang ditulis pada jeluang dalam tulisan Jawa, 1 tasbih, 1 keris kecil berwarna kuning emas, 1 keris sedang berwarna cokelat, 1 guci kecil, 1 guci sedang, 1 ketel atau ceret kuningan, 1 tombak, 1 tas kuno berisi perca dan 1 padupan.

Benda-benda pusaka kuno itu disimpan dalam sebuah tas yang sudah lapuk dan berlubang di beberapa sisinya. Tas itu tampak terbuat dari anyaman bambu dilapis kulit.

"Jadi kemungkinan lebih dari 200 tahun, karena 200 tahun dari sekarang 1830an. Katakan 1825 era perang Diponegoro, dan di perang Diponegoro kertas dari barat itu sudah ada, dan pemakaian deluang sebelum kertas. Dari situ saja sudah diketahui, tapi kita belum bisa memastikan," kata salah satu pegiat pelestari, khususnya pelestari tosan aji Banyumas, Indra Adityawarman (31), kepada detikcom di Jalan Jenderal Gatot Subroto, Banyumas, Rabu (25/11/2020).

Dia mengatakan jika dirinya diperbantukan oleh Dinas Arpusda untuk memberikan gambaran pada barang-barang tersebut. Dia sendiri melihat lima jenis benda yang dihibahkan oleh Rasiti.

"Ada sekitar lima jenis benda, di antaranya tombak, handel keris, manik-manik, lontar yang itu pun ada tiga jenis, dan dua buah manuskrip jeluang. Dari manuskrip jeluang itu sendiri ada dua manuskrip yang sudah diarsipkan di sini dan kemungkinan bertuliskan cecarakan awal, karena dia beda dengan Kawi, tapi juga beda dengan hanacaraka yang sekarang ada, hanacaraka modern. Jadi kemungkinan besar itu cecarakan awal atau aksara Jawa awal," ujarnya.

Indra menilai perlu ada filolog untuk membaca manuskrip dan arkeolog untuk mengetahui berapa perkiraan usia barang-barang kuno tersebut.

"Nanti kan mungkin ada uji material, karena jeluang itu sendiri kan ada beberapa jenis. Jeluang yang biasa digunakan pihak keraton atau jeluang-jeluang yang biasa dipakai di situs situs pertapaan, itu kualitasnya akan beda. Mungkin dari situ arkeolog nanti akan bisa memastikan apa," ujarnya.

Dia memperkirakan jika usia dari benda-benda tersebut dari berbagai era. Seperti halnya daun lontar, Indra mengatakan lontar kebanyakan digunakan saat era pra Islam, walaupun setelah Islam ada beberapa manuskrip Islam yang menggunakan daun lontar.

"Tetapi kebanyakan di Jawa ya pra Islam. Kemudian untuk handel keris, handel keris itu sendiri kalau melihat dari fragmennya, bentuknya, itu kan handel keris gagrak Banyumas tapi Banyumas pasir. Kalau Banyumas pasir itu pengaruhnya kerajaan Cirebon maupun kerajaan Padjajaran. Yang satu itu handel Putabajang dan yang satu itu handel Nuradakanda. Untuk Nuradakanda kemungkinan besar lebih muda atau lebih tua ketimbang Putabajang. Karena Putabajang kemungkinan muncul handel tersebut ketika Kerajaan Cirebon atau Padjadjaran," ujarnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2