Mbah Jono, Sebatang Kara Tidur di Makam Salatiga Kini Terbaring Sakit

Akbar Hari Mukti - detikNews
Minggu, 22 Nov 2020 11:28 WIB
Mbah Jono, kakek hidup sebatang kara di pemakaman Salatiga kini terbaring di rumah sakit, Sabtu (21/11/2020).
Mbah Jono, kakek hidup sebatang kara di pemakaman Salatiga kini terbaring di rumah sakit, Sabtu (21/11/2020). Foto: dok. ACT Salatiga
Salatiga -

Sujono atau Mbah Jono (89) merupakan kakek yang hidup sebatang kara dan tinggal di komplek pemakaman di Kota Salatiga, Jawa Tengah. Di masa senjanya, kini Mbah Jono sakit-sakitan dan harus dirawat di rumah sakit.

Untuk bisa berobat di rumah sakit, Mbah Jono pun dibantu oleh relawan Aksi Cepat Tanggap (ACT) Kota Salatiga. Sudah 8 hari Mbah Jono dirawat di rumah sakit umum daerah Kota Salatiga.

"Awalnya 8 hari lalu saya dihubungi seseorang di sosial media, mengatakan ada seseorang yang tinggal sendiri di makam Salatiga sakit. Maka kami bersama pihak-pihak terkait membawa Mbah Jono ke rumah sakit," jelas koordinator relawan ACT Kota Salatiga, Ardian Kurniawan, dihubungi detikcom, Sabtu (21/11/2020).

Mbah Jono didiagnosis mengalami kurang gizi dan mengidap penyakit darah tinggi. Kini kondisinya yang lemah membuatnya hanya dapat berbaring di rumah sakit.

Relawan ACT pun mendampingi Mbah Jono untuk mendapatkan gizi dan kesehatan. "Selama 8 hari ini saya temani di rumah sakit. Untuk makan harus disuapi karena kondisi Mbah Jono yang masih lemah," paparnya.

Ardian mengungkapkan, Mbah Jono sudah 25 tahun tinggal sendirian di sebuah gubuk sederhana di kompleks Makam Sasono Mukti, belakang Pasar Rejosari Kota Salatiga.

Pekerjaan sehari-hari Mbah Jono sebagai pencari rongsok di penampungan sampah yang berada di belakang rumahnya.

Tempat tinggal Mbah Jono di kompleks pemakaman di Salatiga, Sabtu (21/11/2020).Tempat tinggal Mbah Jono di kompleks pemakaman di Salatiga, Sabtu (21/11/2020). Foto: dok. ACT Salatiga

"Sehari-hari mencari rongsok di belakang rumahnya. Nanti kemudian dipilah untuk dijual. Terkadang juga membersihkan nisan makam seseorang kemudian dibayar," jelasnya.

Mbah Jono juga mendapatkan bantuan PKH dan BPJS kesehatan. Namun kondisinya yang sudah renta dan tinggal sendirian membuatnya tidak diurus orang lain.

"Beliau juga sepanjang hidup mengaku belum pernah menikah. Kondisinya yang sudah tua dan tak ada yang mengurus membuatnya sakit-sakitan," ujarnya.

Ia mengungkapkan, ingin memindahkan Mbah Jono ke tempat tinggal yang lebih layak saat sudah sembuh dari sakit. Namun, Mbah Jono menolaknya.

"Sebenarnya kami berniat memindahkan Mbah Jono di panti sosial. Tetapi beliau menolak. Beliau berpesan kepada saya, hidup mati saya mau di makam sini," kata Ardian.

Ia pun nantinya akan memperbaiki kondisi rumah yang ditempati Mbah Jono di kompleks makam tersebut. Agar lebih layak ditinggali Mbah Jono di usia senjanya.

"Karena sampai saat ini saya bujuk untuk pindah tidak mau, maka nantinya kami perbaiki rumah yang di makam agar lebih nyaman," imbuhnya.

(rih/rih)