Cerita Mahasiswa Pelapor Rektor Unnes ke KPK Dituduh Terkait OPM

Angling Adhitya Purbaya - detikNews
Selasa, 17 Nov 2020 19:56 WIB
Dekan Fakultas Hukum Unnes, Rodiyah, mengeluarkan surat pemberitahuan pengembalian pembinaan moral karakter mahasiswa bernama Frans Josua Napitu kepada orang tuanya, Senin (16/11/2020).
Dekan Fakultas Hukum Unnes, Rodiyah, mengeluarkan surat pemberitahuan pengembalian pembinaan moral karakter mahasiswa bernama Frans Josua Napitu kepada orang tuanya, Senin (16/11/2020). Foto: Angling Adhitya Purbaya/detikcom
Semarang -

Dekan Fakultas Hukum Universitas Negeri Semarang (Unnes), Rodiyah, mengeluarkan surat pemberitahuan pengembalian pembinaan moral karakter mahasiswa bernama Frans Josua Napitu ke orang tuanya. Frans yang pekan lalu mendatangi KPK untuk melaporkan Rektor Unnes terkait dugaan korupsi itu juga dituduh terkait Organisasi Papua Merdeka (OPM).

"Saya kecewa atas keputusan universitas yang dikeluarkan Dekan. Tapi saya akan hadapi dengan gembira dan bahagia," kata Frans saat dihubungi detikcom via telepon, Selasa (17/11/2020).

Frans juga menganggap tuduhan terkait dugaan keterlibatan OPM dalam surat bernomor T/7658/UN37.1.8/KM/2020 itu tidak berdasar. Frans sendiri mengaku pernah mengikuti aksi saat warga Papua mendapat perlakuan rasis.

"Tuduhan tanpa dasar, bias dampaknya. Memang pernah aksi menolak rasisme. Tidak hanya dengan teman-teman Papua, tapi organisasi sipil, dari BEM, bersama menolak rasisme terhadap teman Papua. Tanpa dasar dikaitkan atau diklaim sebagai simpatisan OPM padahal tidak punya keterkaitan dan apa itu OPM dan apa aktivitasnya," tukas Frans.

Meski begitu, Frans tak membantah menulis tagar #papualivesmatter di media sosialnya. Dia menegaskan tagar itu untuk menyuarakan gerakan melawan rasisme, sama halnya ketika tagar #blacklivesmatter viral di media sosial.

"Papua lives matter itu tagar menyuarakan penolakan rasisme. Itu trending waktu itu pasca-pembunuhan George Floyd di Amerika yang kulit hitam, di dunia kan #blacklivesmatter. Tidak usah terlalu jauh ternyata di negara sendiri rasisme masih terus terjadi," ujar Frans.

"Saya tidak terima saudara sesama manusia dari Papua dikatakan m****t. Tidak terima mereka dianggap bukan sebagai manusia seperti kita biasanya," sambungnya.

Frans sendiri menanggapi santai keputusan kampusnya tersebut. Saat ini Frans merupakan mahasiswa tingkat akhir dan tinggal mengurus skripsi untuk akademiknya.

"Ya, hadapi dengan bahagia," cetusnya.

Sebelumnya, Dekan Fakultas Hukum Unnes Rodiyah menjelaskan surat pemberitahuan pengembalian pembinaan moral karakter mahasiswa Frans tidak serta-merta karena pelaporannya ke KPK. Rodiyah menyebut pihaknya sudah melakukan pembinaan yang cukup lama kepada Frans.

"Sejak 5 Juni 2018 kami sudah lakukan pembinaan kepada yang bersangkutan saat itu terkait pelanggaran etika dan tata tertib, undangan tertulis klarifikasi aksi penolakan uang pangkal dan seterusnya, dan terakhir 8 Juli 2020 klarifikasi aksi 25 Juni 2020 posisi yang bersangkutan sebagai juru orator. Lalu klarifikasi data di FB atas foto tanggal 21 Juni 2020 dengan tagar #papualivesmatter, foto bertulis bebaskan tapol di seluruh Indonesia lalu pernyataan diakhiri pernyataan Frans Napitu," kata Rodiyah di kantornya, Senin (16/11).

Selanjutnya kata pihak kampus soal keputusan mengembalikan pembinaan Frans ke orang tuanya...