Kebakaran di Pabrik Busa Sragen Akhirnya Padam Setelah 7 Jam

Andika Tarmy - detikNews
Minggu, 25 Okt 2020 00:36 WIB
Petugas damkar terus berupaya memadamkan api yang melalap gudang pabrik busa di Sragen, Jawa Tengah. Berikut penampakannya.
Penampakan kebakaran yang melanda pabrik busa di Sragen, Foto ini diambil Sabtu (25/10) sekitar pukul 20.00 WIB (Foto: Andika Tarmy/detikcom)
Sragen -

Setelah menyala selama tujuh jam, kebakaran yang melanda pabrik foam (busa) di Sragen, akhirnya berhasil dipadamkan. Petugas pemadam kebakaran (Damkar) menyebut satu gudang berisi bahan baku milik pabrik rata dengan tanah akibat kebakaran ini.

"Sudah padam sekitar pukul 22.30 WIB. Sudah klir, sudah selesai untuk sarpras seperti selang sudah kita gulung," ujar Kasi Pemadaman dan Penyelamatan Dinas Satpol PP dan Damkar Sragen, Anton Sujarwo, dihubungi detikcom, Sabtu (24/10/2020).

Anton menerangkan secara total petugas memerlukan waktu sekitar tujuh jam untuk memadamkan kebakaran di pabrik yang beralamat di Dusun Salam, Desa Saren, Kecamatan Kalijambe, Sragen ini. Tak kurang dari sepuluh unit Pemadam Kebakaran dari Sragen dan sekitarnya, serta 30 tangki air dihabiskan untuk menjinakkan api.

"Sekitar tujuh jam pemadaman. Untuk air kita habis sekitar 30 tangki," imbuhnya.

Anton mengaku belum mengetahui secara pasti asal api di pabrik busa tersebut. Namun menurutnya, saat petugas datang posisi api masih belum menyala begitu besar di bagian gudang.

"Info dari teman-teman tadi sampai lokasi api masih kecil, berada di gedung yang deket tembok sisi timur, terus merambat," paparnya.

Menurut Anton, karena posisi api berada di gudang yang berisi bahan baku busa dan biji plastik, api dengan cepat membesar dan sempat merambat ke gedung lain. Awalnya Anton mengatakan terdapat empat gedung yang terbakar, namun usai dilakukan inventarisir hanya ada tiga gedung yang terkena api.

"Ternyata tiga gedung, yang gedung ketiga ini rata dengan tanah atapnya sampai ambruk karena berisi bahan baku mudah terbakar. Sementara dua gedung lain berisi mesin," tambahnya.

Untuk gedung dua, kata Anton, rusak sekitar 70 persen. Sementara satu gedung lainnya tidak sampai mengalami kerusakan serirus.

"Sebagian mesin terbakar. Api sempat sampai ke gedung satu namun perambatan berhasil kita antisipasi," imbuh Anton.

Anton menambahkan pabrik tersebut kurang memiliki proteksi kebakaran yang memadai karena belum dilengkapi dengan hidran. Pihak pabrik hanya menyediakan alat pemadam api ringan (APAR) yang kurang mumpuni untuk memadamkan api skala besar.

"Untuk proteksi kebakaran kebetulan yang dipunyai pabrik baru APAR. Memang kita temukan APAR yang sempat terpakai, tapi APAR kan untuk api kecil," kata Anton.

(ams/ams)