Mengintip Sekolah Gratis Anak Pemulung-Pengamen di Bantaran Sungai Yogya

Pradito Rida Pertana - detikNews
Senin, 19 Okt 2020 15:56 WIB
Sekolah Gajah Wong, Kota Yogyakarta, Senin (19/10/2020).
Sekolah Gajah Wong, Kota Yogyakarta, Senin (19/10/2020). Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom

Terkait soal biaya operasional Sekolah Gajah Wong, Faiz mengaku mendapat dana dari beberapa program warga tempat dia tinggal. "Kita punya enam program sebagai sumber dana, karena guru-guru itu kita gaji," ujarnya.

"Saat ini ada enam guru, 1 admin dan saya sebagai koordinator. Kalau dipetakan, misal dari sampah bisa gaji dua guru. Lalu dari media kampanye 2-3 guru dan dari peternakan bisa gaji 1-2 orang," lanjutnya.

Pertama adalah sampah untuk anak atau yang dikenal bank sampah. Di mana dia dan rekan-rekannya mencari orang yang mau mendonorkan sampah ke Sekolah Gajah Wong, kerja samanya dengan beberapa hotel, kampus hingga perorangan.

"Sampah yang didapat untuk memenuhi kebutuhan media pembelajaran di sekolah. Karena semua media pembelajaran di Gajah Wong menggunakan barang bekas atau sampah. Jadi semua bahan pembelajaran pakai barang bekas untuk memangkas biaya operasional," katanya.

Sekolah Gajah Wong, Kota Yogyakarta, Senin (19/10/2020).Sekolah Gajah Wong, Kota Yogyakarta, Senin (19/10/2020). Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom

Kedua, pihaknya memiliki koperasi sembako. Konsep koperasi adalah warga belanja sekaligus dengan menabung.

"Jadi beras sekilo harga Rp 10 ribu, dari Rp 10 ribu itu ada keuntungan Rp 1.000. Nah yang Rp 1.000 dibagi 3, 40 persen untuk yang belanja, 30 persen untuk koperasi dan sekolah," katanya.

Ketiga, ada peternakan domba, pembibitan, fundraising bikin cendera mata yang dijual secara online dan offline. Namun, semenjak pandemi mereka membuat bazar pakaian dan alat tulis murah seminggu sekali, baik secara online dan offline. Biasanya, kata Faiz, bazar digelar di kampung-kampung masyarakat miskin. Sedangkan pakaian dan alat tulis berasal dari donasi masyarakat.

"Jual pakaian hingga alat tulis dengan harga murah. Semua untuk pemasukan sekolah. Tapi semenjak pandemi kita buka donasi ke masyarakat umum, animo bagus dan mereka mengirim pakaian ke sini," ujarnya.

Terlepas dari hal tersebut, dia menyebut jika murid lulusan Sekolah Gajah Wong tetap didorong untuk bersekolah secara formal. Lulusan Sekolah Gajah Wong kebanyakan sekolah di sekolah tumbuh.

"Lulusnya berdasarkan umur, dan anak kita dorong ke sekolah formal untuk melanjutkannya, seenggaknya sampai lulus SMA lah," ucapnya.

"Dan karena negeri sulit kita dorong ke swasta, kita punya kerja sama dengan Sekolah Tumbuh, MoU setiap tahun mereka menerima anak dari sini free sampai SMA sebanyak dua anak dan ini sudah berjalan sekitar enam tahun," tutur Faiz.

Halaman

(rih/sip)