Mengintip Sekolah Gratis Anak Pemulung-Pengamen di Bantaran Sungai Yogya

Pradito Rida Pertana - detikNews
Senin, 19 Okt 2020 15:56 WIB
Sekolah Gajah Wong, Kota Yogyakarta, Senin (19/10/2020).
Sekolah Gajah Wong, Kota Yogyakarta, Senin (19/10/2020). Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom

Keempat kelas itu adalah kelas akar untuk 3-5 tahun, kelas rumput untuk 5-7 tahun, kelas ranting untuk usia 7-10 dan kelas batang untuk usia 10-15 tahun. Saat ini sekolah tersebut telah memiliki puluhan murid.

"Untuk jumlah siswa saat ini ada 58 orang, itu dibagi empat ya. Jadi untuk kelas akar ada 12 (orang), rumput 14 anak, batang tujuh anak sisanya kelas ranting," katanya.

Sedangkan sistem pembelajaran, pihaknya saat ini menerapkan kunjungan guru ke rumah-rumah karena pandemi virus Corona atau COVID-19.

"Kalau pembelajaran normal Senin-Jumat. Semenjak pandemi ini kita lebih ke visit, tiga bulan awal datang ke rumah-rumah. Jadi seminggu itu anak-anak didatangi 2-3 kali oleh guru," ucapnya.

Terkait sistem pembelajaran di Sekolah Gajah Wong, pihaknya menerapkan kurikulum khusus. Di mana kurikulum itu 50 persen berdasarkan pada pembelajaran terhadap lingkungan dan sosial.

"Untuk metode pembelajaran kita memiliki kurikulum sendiri yang kita beri nama kurikulum Sekolah Gajah Wong. Jadi kita mengaduk-aduk banyak kurikulum hingga Islam terpadu, akhirnya setelah dipelajari lalu kita kelola dengan mengedepankan kelokalan, karena identik dengan kaum miskin kota," katanya.

Faiz dan rekan-rekannya, selaku pendiri Sekolah Gajah Wong, Kota Yogyakarta, Senin (19/10/2020).Faiz dan rekan-rekannya, selaku pendiri Sekolah Gajah Wong, Kota Yogyakarta, Senin (19/10/2020). Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom

Secara rinci dia menjelaskan, kurikulum Sekolah Gajah Wong ini terdiri dari 50 persen pembelajaran lingkungan sosial dengan menggunakan metode tematik. Di mana anak-anak memilih tema, kemudian kegiatan berikutnya entry poin yakni kegiatan yang menyenangkan agar anak-anak semakin tertarik dengan tema yang dipilih.

Lalu dilanjutkan dengan webbing awal dan masuk proses, dalam proses itu ada area yang pertama, dalam pendekatan pendekatan area ada 8-10 area meliputi seni, persiapan membaca, lukis, komputer kemudian balok dan seterusnya.

"Sambil berjalan itu ada literasi, guru tamu sesuai tema kemudian ada trip. Jadi trip ke sesuatu tempat sesuai tema. Setelah itu berjalan anak-anak masuk ke proyek, proyek itu anak-anak membuat sesuatu yang idenya dipikirkan bareng dan memiliki kemanfaatan," katanya.

Menyoal biaya sekolah, Faiz menyebut tidak mematok biaya. Namun, orang tua murid wajib melaksanakan piket untuk mengganti biaya SPP.

"Kami tidak memungut biaya alias gratis. Tapi orang tua wajib piket, piket dalam artian membersihkan sekolah ini, jadi orang tua terlibat semua. Jadi dia harus terlibat, meski punya uang tetap tidak boleh diwakilkan karena piket itu seperti membayar SPP-nya," katanya.

Selanjutnya
Halaman
1 2 3