Kisah Puji, Eks Napi Teroris yang Kini Budi Daya Lele

Angling Adhitya Purbaya - detikNews
Sabtu, 17 Okt 2020 09:04 WIB
Eks napi kasus terorisme, Sri Pujimulyo Siswanto (47), berusaha agar bisa kembali diterima di masyarakat, Semarang, Kamis (15/10/2020).
Eks napi kasus terorisme, Sri Pujimulyo Siswanto (47), di Semarang, Kamis (15/10/2020). (Foto: Angling Adhitya Purbaya/detikcom)
Semarang -

Dua kali pernah dipenjara terkait kasus terorisme, Sri Pujimulyo Siswanto (47), warga Kota Semarang, Jawa Tengah, berusaha agar bisa kembali diterima di masyarakat. Sebagai mantan napi, ia dibantu ketua RT untuk bermasyarakat hingga membentuk kelompok budi daya lele.

Puji yang ditemui di lokasi budi daya lele di Jalan Sumur Adem IV, Kelurahan Bangetayu Kulon, Kecamatan Genuk, Kota Semarang, menceritakan dirinya yang dua kali menjadi napi terorisme.

"Saya dua kali tersangkut pidana terorisme. Tahun 2005 akhir, kemudian tahun 2010 pertengahan," kata Puji saat ditemui detikcom, Kamis (15/10/2020).

Pada kasus pertama, Puji terlibat terorisme karena menyembunyikan teroris Noordin M Top dan Dr Azahari. Kemudian kasus kedua, dia menyembunyikan Abu Tholut. Puji pernah ditahan di Nusakambangan, Mako Brimob, dan Lapas Kedungpane.

"Saya sebenarnya tinggal di sini sudah sejak 2001. Muncul stigma yang memandang saya sebagai mantan napi teroris walau tidak terang-terangan," ujar Puji.

"Saat ditahan kasus kedua, ada deradikalisasi dari pemerintah dan BNPT, ada diskusi, dialog dari berbagai kalangan," sambungnya.

Setelah bebas dari penjara untuk kedua kalinya dan telah mengikuti deradikalisasi, Puji ingin kembali ke masyarakat. Namun ternyata hal itu tidak semudah yang dibayangkan karena rekam jejaknya sebagai napi terorisme.

Ketua RT tempatnya tinggal kemudian memberinya kepercayaan sebagai takmir masjid. Puji berusaha meyakinkan para tetangga kalau dirinya sudah tidak seperti dulu.

"Dengan Pak RT yang punya pola pendekatan merangkul saya, memberi kepercayaan kepada saya. Ini tidak mudah, jadi saya mencoba hal terbaik," kata Puji.

Menurutnya, saat itu sempat ada pesimistis soal kemajuan kampung karena takmir masjidnya mantan napi terorisme sedangkan ketua RT-nya adalah pemain musik.

Puji mengungkapkan, Ketua RT tempat tinggalnya, Hendi Kartika (55), adalah seorang musisi yang kerap tampil di berbagai acara. Salah satunya sering tampil di Lawang Sewu sebelum masa pandemi virus Corona.

"Pandangan itu membuat kita tercambuk untuk bisa berbuat baik di masyarakat. Saya dan Pak RT dan beberapa orang membuat budi daya lele. Memang belum maksimal dapatkan hasil, tapi dengan kegiatan ini satu harapan ke depan ini bisa kita jadikan pegangan," jelasnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2