Candi Petirtaan Magelang Ternyata Tempat Ritual Mewah Masa Jawa Klasik

Eko Susanto - detikNews
Kamis, 15 Okt 2020 13:47 WIB
Candi Petirtaan di Mantingan, Kabupaten Magelang, Kamis (15/10/2020).
Candi Petirtaan di Kabupaten Magelang. (Foto: Eko Susanto/detikcom)
Kabupaten Magelang -

Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah mengekskavasi tahap tiga penemuan Situs Petirtaan Mantingan, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Runtuhnya Candi Petirtaan dikarenakan terkena erupsi Gunung Merapi.

"Iya betul (tertimbun saat erupsi Gunung Merapi). Jadi memang, dari data-data yang ada itu, dari hasil ekskavasi pun sudah tampak kalau limpasan vulkanik sampai situ. Jadi dari Sungai Batang yang ada di 300 meter sisi timur itu juga ternyata ada sungai tua juga yang mengarah ke petirtaan itu, ketika terjadi luapan limpasan lahar sudah di Sungai Batang tidak menampung mengalir ke sungai tua tersebut dan juga penuh akhirnya melimpas ke petirtaan itu," kata Pengkaji Cagar Budaya BPCB Jawa Tengah, Junawan, saat dihubungi wartawan, Kamis (15/10/2020).

Ekskavasi tahap ketiga ini telah dilakukan di bagian selatan pada Kamis (1/10) sampai Sabtu (10/10). Junawan mengungkap tidak penemuan prasasti dalam proses ekskavasi itu. Salah satu yang diungkap dari ekskavasi ini yakni bentuk dari candi tersebut.

"Kalau dari tahap 1, 2 sampai 3 ini melengkapi komponen. Kemarin memang ada beberapa komponen kita temukan dan mungkin masih banyak lagi yang di situ. Kita membuka di sisi selatannya untuk memastikan bentuknya. Jadi kalau 1, 2 kemarin sudah mengidentifikasi atau diduga petirtaannya ada beberapa tipe, ada tipe kolam, seperti letter U atau setengah kotak. Ini kemarin berhasil kita pastikan kalau itu bentuknya setengah kotak atau letter U," urainya.

"Karena tidak ada prasasti yang jelas menunjukkan angka tahunnya, jadi memakai pertanggalan relatif melalui profil candi yang dari bawah mungkin fondasi, kemudian di genta, kemudian belah rotan, belipit dan seterusnya. Itu menunjukkan model-model klasik pertengahan sekitar abad 9," kata Junawan.

Temuan terbaru dari ekskavasi kemarin kata Junawan, yakni bentuk ujung dari petirtaan di sayap barat. Dari bentuk ujung petirtaannya, diduga ada rekayasa dalam pembuatannya.

"Jadi, suatu lereng gunung yang menyatu dengan Bukit Singo Barong kemudian dipangkas, kemudian diletakkan struktur dari petirtaan itu. Pada bagian ujungnya hanya ditampakkan sisi mukanya sedikit dan setelah itu padas lagi," urainya.

Junawan menjelaskan Candi Petirtaan ini merupakan bagian candi yang berfungsi untuk mengalirkan air suci. Menurutnya, penemuan ini termasuk Candi Petirtaan yang mewah dan berukuran besar di Jawa Tengah.

"Yang jelas kalau petirtaan juga bagian candi juga yang memang berfungsi untuk mengalirkan air suci, untuk penolak bala, untuk penghapus dosa, semacam itu. Kalau nilai perlu pentingnya yang jelas dari raga biasa juga itu termasuk bagus, mewah, dari bahannya juga bagus dan dalam ukurannya kalaupun selama ini di Jawa Tengah ini termasuk besar," kata dia.

Lebih lanjut dia menjelaskan ekskavasi pada tahap satu, dua dan tiga ini sifatnya penyelamatan. Data yang diperoleh yakni bentuk hingga proses reruntuhannya. Sedangkan tindak lanjutnya yakni pelestarian dengan studi kelayakan.

"Kemudian studi teknis, kemudian baru pemugaran, jadi nanti dari hasil studi kelayakan dan teknis nanti pada akhirnya akan dilakukan pemugaran," ujarnya.

(sip/mbr)